Saturday, March 07, 2009

Hari Ini Saya Sedikit Bermimpi... Haha...

Bismillah..

Hari ini.. sabtu, 7 maret 2008 adalah hari yang mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu hari yang cukup penting dalam hidup saya. Bagaimana tidak, mungkin hari ini adalah salah satu titik persimpangan jalan yang menjadi faktor penentu kehidupan saya di masa yang akan datang. Bagaimana saya berkontribusi, bagaimana saya membangun diri. Meskipun memang hari ini bukanlah segalanya, namun tidak ada salahnya untuk menghargai setiap jenak waktu yang terlewati hari ini.

Ini adalah pengalaman pertama saya mendapatkan "panggilan resmi" dari sebuah institusi formal untuk hadir dan menjalani interview. Pengalaman pertama ini menjadi semakin menarik karena interviewer saya (orang yang mewawancarai saya) bukanlah sembarang orang. Beliau adalah seorang associate professor lulusan Princeton University, yang saat ini diamanahkan menjadi vice dean of academic affair di Lee Kuan Yew School of Public Policy Singapore. Akademisi berusia 38 tahun yang bernama lengkap Scott Fritzen, PhD ini adalah seorang expert dalam bidang pengembangan kebijakan pengentasan kemiskinan, kebijakan antikorupsi dan analisa organisasi di negara-negara berkembang di asia, termasuk Indonesia. It must be a great moment to learn!

Nuansanya menjadi semakin dramatis karena bisa dikatakan saya kurang tidur tadi malam. Tiba di jakarta sekitar pukul 1/2 12 malam, dan baru tidur sekitar pukul 1 pagi. Alhasil, ketika bangun untuk mengambil air wudhu untuk shalat shubuh, tampak cekungan di mata saya yang merah. Butuh upaya yang sedikit lebih dari biasanya untuk membuat mata saya terjaga.

Singkat cerita, berangkatlah saya dari rumah jam 6.30 pagi. Ditemani oleh ayah saya, lengkap dengan pakaian berdasi kami pun memulai perjalan menuju Hotel Sari Pan Pacific di bilangan Jl. Thamrin, jakarta pusat dengan menggunakan angkutan umum. Saya mendapatkan jadwal interview pukul 10 pagi, yang kemudian dilanjutkan dengan tes matematika & tes reading+writing pada pukul 12 siang. Saya mengajak ayah saya untuk ikut serta sebagai penunjuk jalan menuju ke tempat tujuan. Maklum, saya tidak begitu hafal jalan-jalan di jakarta. Meskipun memang bundaran HI-Thamrin-Istana adalah salah satu "rute wajib" para aktivis penggemar aksi yang cinta damai. haha...

Setelah sampai di Lenteng Agung, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Kereta Api Ekonomi AC menuju Gondangdia. Satu hal yang bisa saya katakan sebagai keuntungan bila berjalan bersama dengan ayah saya adalah karena semangat silaturahimnya yang begitu luar biasa. Mulai dari supir angkot, tukang ojek sampai penjaga toilet dan mushola di stasiun lenteng agung menyapa beliau. Bahkan yang terakhir sampai rela meminjamkan mejanya sebagai tempat bagi saya untuk meluangkan waktu sejenak membaca beberapa bahan yang belum sempat saya baca di sela jenak waktu menanti kedatangan kereta kami. Entah apa yang beliau lakukan sehingga sedemikian banyak orang yang tak sungkan menyapa kami. Jujur saya mengaku tidak ada apa-apanya dalam hal ini dibandingkan beliau.

Akhirnya kereta api pun tiba, dan kami pun bergegas masuk. Semilir AC di dalam kabin kereta ekonomi pagi itu cukup melegakan. Terutama mengingat tidak terlalu banyak orang yang memanfaatkan sarana transportasi publik tsb ketika itu. Mungkin sebagian di antaranya pergi ke luar kota atau sejenak menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta di rumah atau di tempat-tempat rekreasi. Akhirnya sampailah kami di stasiun Gondangdia. Dari sana kami memutuskan untuk naik ojek menuju tempat tujuan. Masih saja ada tukang ojek yang menyapa ayah saya beberapa saat setelah ojek kami mulai meninggalkan stasiun=b

Saya tiba di tempat pukul 8 pagi, dua jam lebih awal dari jadwal yang semestinya. Tapi saya pikir ini lebih baik, dibandingkan harus terburu-buru menjelang waktu yang ditentukan. Ketika saya datang, sudah ada tiga orang yang hadir lebih awal. Plus, sang profesor yang profile,foto & backgroundnya memang sudah saya telusuri sebelumnya. Dan alhamdulillah.. beliau menyapa saya dengan sangat ramah!

Saya duduk dan berkenalan dengan beberapa orang yang lebih dulu hadir di sana. Applicant Master of Public Policy memang didominasi oleh anak-anak muda.. rata-rata angkatan 2002-2005.. (meskipun ada satu orang yang berasal dari angkatan 96). Selain saya (Unpad), dan adik kelas saya di smu IC yang secara tidak sengaja kembali bertemu di momen tsb (Berasal dari Sekolah Teknologi Petronas di Malaysia, saya lupa nama inggrisnya=b), seluruh aplikan berasal dari UI! FH, FISIP, ANTROPOLOGI, dsb. Yang lebih menarik adalah background yang mereka miliki. Ada yang sedang bekerja di lawfirm, ada yang bekerja sebagai praktisi di WHO, seorang peneliti sosial, ada yang sudah bekerja di perusahaan multinasional, bahkan ada seorang penyiar TV One yang biasa tampil di layar kaca berita malam. Sementara saya siapa ya?=b jawaban pamungkas saya kalo ditanya mengenai kesibukan saya: "freelancer". udah. haha... "Luar biasa anak-anak muda ini", pikir saya.

Semua orang menanti giliran untuk dipanggil ke dalam sebuah private room untuk melakukan interview empat mata dengan Mr. Fritzen selama lebih kurang 20 menit. Waktu untuk menunggu, saya habiskan untuk berbincang-bincang dengan peserta yang lain. Terutama mengenai aktivitas mereka sehari-hari. Salah satu yang paling menarik adalah apa yang diceritakan oleh sang penyiar TV One yang kebetulan duduk di sebelah saya. Ia mengaku sudah beberapa hari ini kurang tidur. Ia mengatakan bahwa resiko menjadi seorang reporter adalah harus siap untuk dihubungi kapan pun 24/7. Tapi ia mengaku, bahwa keuntungan yang ia rasakan adalah "networking". Misalnya dalam hal meminta surat rekomendasi untuk keperluan S2. Cukup mendatangi salah seorang tokoh dan bilang, "Bang, bantuin dong.. buatin surat rekomendasi". Ungkapnya sambil tertawa kecil.

Lebih lanjut ia menceritakan sedikit cerita "behind the scene" yang berkaitan dengan siaran langsung berita malam yang ia lakukan setiap senin malam sampai jumat malam, kecuali rabu malam. Ia menceritakan bahwa penampilannya harus benar-benar perfect. "Kalau seandainya pemirsa di rumah tahu apa yang ada di bawah jangkauan kamera..", lanjutnya. "Di bawah itu banyak kabel yang berseliweran di bawah dan sewaktu-waktu bisa membuat kita tersandung.. Di bawah kursi kita itu ada bantal.. supaya kita terlihat lebih proporsional di depan kamera! haha..". Saya sempat menanyakan mengenai "owner intervention" terhadap berita yang disampaikan. Dia bercerita bahwa para kru biasanya mewarning bila ada berita yang berkaitan dengan owner.. "awas hati-hati jangan sampai salah ucap! berita dewa.. berita dewa!", guyon mereka. Kalau berita tokoh yang lain mungkin masih bisa ditoleransi kalau ada sedikit kesalahan. Tapi kalau berita yang menyangkut owner, ga boleh ada kesalahan sedikit pun. Kalau ada kesalahan biasanya owner langsung negur pimpinan siaran melalui telpon. "Menarik juga ya dinamika para jurnalis ini.. haha",pikir saya ketika itu.

Akhirnya giliran saya pun tiba. Sebelumnya saya diberikan sebuah lembar study-case yang berisi sebuah persoalan yang harus dipecahkan. Pendapat yang saya kemukakan di dalam interview akan menjadi salah satu bagian dari penilaian.

Pintu pun terbuka dan beliau mempersilahkan saya untuk masuk. Beruntung karena saya berada di urutan tengah, sehingga saya bisa lebih mengatasi kondisi. Terutama karena saya sudah berada di dalam posisi "nothing to lose" terhadap aplikasi ini, saya benar-benar tidak merasa gugup untuk mengikuti proses wawancara. Alhamdulillah, situasi pun semakin kondusif karena sang profesor bukan seorang yang kaku.. beliau adalah seorang yang sangat bersahabat. Bahkan ia menyediakan segelas air putih untuk saya. Nice=D

Saya membuka percakapan dengan mengatakan, "it's an honor to meet you sir.. I've read few of your publication!". Beliau tampak excited dan menanyakan publikasinya yang mana yang sudah saya baca. Saya bilang, "I read your publication about "Transforming Asian Governance" and about "Government's Political Will toward Anti-Corruption Movement in Vietnam". Dia menanyakan bagian mana yang menarik bagi saya; apakah ada hal yang saya setujui atau tidak setujui. Saya melanjutkan, "I am interested with your statement about 'the orthodox paradox' in vietnam's anti-corruption movement.. the government is police themselves. I think, we have the same situation comparing with Indonesia situation." ('orthodox paradox' adalah ungkapan yang beliau berikan terhadap pemerintah Vietnam yang setengah hati dalam melakukan gerakan pemberantasan korupsi dengan membuat 'KPK ' atau pengawas pemerintah berada di bawah kekuasaan mereka; tidak independen). Beliau menyatakan senang karena saya sudah meluangkan waktu untuk membaca publikasinya karena jarang orang yang mau menyempatkan waktu untuk membaca publikasi yang ia miliki. Dia juga mengatakan, "this is the best first impression I ever had today!", sambil tersenyum. (Untuk hal ini, saya harus berterima kasih kepada Rizal, Panji dan Windu atas kesediaan mereka untuk melakukan roleplay interview dan memberikan banyak feedback bagi saya=D).

Perbincangan pun terus mengalir. Mulai dari alasan saya memilih S1 di psikologi, apa rencana karir saya ke depan, kontribusi nyata yang telah saya lakukan, aktivitas saya setelah lulus dari fapsi, motivasi yang saya miliki, backup plan kalau seandainya tidak lulus NUS, dsb. Alhamdulillah, dari pandangan saya secara pribadi wawancara berjalan dengan lancar. Bahkan lebih lancar dari roleplay! Alhamdulillah.. mungkin ini karena berkat doa dari kawan-kawan semua. Nuhun ya=D Special thanks untuk Windu atas saran sederhananya untuk lebih mengalir dalam interview: "Dengan menghilangkan kesan bahwa kita sedang dinilai!". Trust me, it works!=D

Sembari menunggu jadwal tes tertulis, saya menyempatkan diri untuk pergi ke masjid sesaat. Shalat mutlak sebentar untuk menenangkan hati. Untuk tes selanjutnya, jujur persiapan saya tidak terlalu memadai. Khususnya dalam hal matematika dan writing. Saya berdoa mudah-mudahan Allah lancarkan.

Saya masuk ke dalam ruangan tes pukul 12.10. Saya memiliki waktu untuk menyelesaikan set soal pertama (reading & writing+essay) selama 1 jam 20 menit. Diberikan sebuah artikel mengenai "peristiwa bom di Mumbai, India dan dampaknya terhadap situasi sosial, politik & ekonomi di India". Artikelnya cukup panjang; menghabiskan sekitar 4 halaman. Cool ya?=D Pertanyaannya juga lumayan banyak.. ada 14 pertanyaan yang harus dijawab! Terakhir ditutup dengan Essay bebas tentang strategi pengentasan kemiskinan yang efektif di India.

Alhamdulillah sebagian besar pertanyaan (insya Allah) bisa saya jawab dengan baik, meskipun ada beberapa pertanyaan yang masih saya terka jawabannya. Tapi sayangnya, karena mungkin saya kurang baik dalam memanfaatkan waktu yang tersedia, saya baru bisa memulai menulis essay di detik-detik akhir dari sesi tersebut! Alhasil, saya baru menuliskan dua paragraf dan waktunya sudah habis. Padahal diminta sekitar 500 kata=b It's been a really hard situation to consider. But, I did my best, insya Allah!

Setelah tes set pertama tersebut selesai, dilanjutkan dengan tes matematika dasar. Soalnya hanya 5, disediakan waktu selama 20 menit. Tidak boleh menggunakan kalkulator. Awalnya saya agak lupa-lupa ingat untuk menyelesaikan persoalan yang diberikan. Bahkan ada pertanyaan yang keliru saya pahami pada awalnya. Tapi, syukur alhamdulillah Allah masih memberikan saya kesempatan untuk menyadari dan memperbaikinya kembali. Soal yang diberikan mengenai pertidaksamaan, mengenai mean (rata-rata), dan sedikit logika. Alhamdulillah, setelah diperiksa oleh sang profesor, jawaban saya alhamdulillah mendapatkan skor maksimal 5 (betul semua). "Well done!", kata beliau. Alhamdulillah, otak saya masih bisa dipake buat ngitung=b

That's all for today guys.. Hari ini merupakan bagian dari upaya saya untuk mengejar mimpi.. LKY NUS merupakan sebuah institusi yang dikenal baik di dunia internasional. Bahkan terakhir secara peringkat, NUS setara dengan Tokyo University.

Ya.. tidak ada salahnya bukan?Hari ini saya sedikit bermimpi..
May Allah give the very best. Amin. Mohon doanya kembali kawan=D

Berikut saya share beberapa foto yang menggambarkan suasana kampus LKY NUS yang saya dapatkan (picture taken from pheakdey2u.files.wordpress.com). Benar-benar layak untuk diperjuangkan! Beda dikit sama kampus fapsi unpad!=b :



Sunday, March 01, 2009

Kayuhan Penuh Kegigihan...

Bismillah...

Belum selesai saya merenung mengenai kerendahan hati dan semangat berbagi, saya mendapatkan kabar lainnya yang benar-benar membuat saya malu.. benar-benar malu..

Kisah nyata tentang seorang bapak dengan lima orang anak di sebuah desa di kabupaten sumedang. Kegigihannya, ketulusannya.. membuat saya merasa harus lebih banyak mengintrospeksi diri. Bagaimana tidak.. saya seringkali mengeluh setiap kali diminta berbagi di jatinangor atau tempat-tempat lain yang menurut saya: "agak" jauh. Memang, dada saya akhir-akhir ini agak sedikit sakit karena sering menerjang dinginnya malam dan basah hujan dengan motor bandung-jatinangor pp.. tapi sebenarnya bukan itu yang seringkali membuat saya begitu berat untuk berangkat. Lebih karena faktor psikologis lainnya (intelektualisasi nih..) : "rasa malas".

Tapi, jauh berbeda apa yang dilakukan oleh bapak lima orang anak yang sangat istimewa ini. Beliau menjadi istimewa bukan karena harta yang melimpah.. tapi karena kegigihan beliau yang begitu luar biasa. Another great story to be learned..

Di hari itu, beliau memutuskan untuk kembali berjuang mencari sumber penghidupan untuk istri dan kelima buah hatinya. Pagi itu, beliau memutuskan untuk mencari pekerjaan di daerah cibiru. Tanpa mengeluh, ia kayuh sepeda yang ia miliki.. Namun bukan dengan alasan yang sama dengan buruh-buruh berdasi di jakarta yang mengikuti trend "bike to work".. atau para aktivis "hijau" yang mengampanyekan sepeda sebagai alat transportasi bebas polusi.. Hal ini beliau lakukan karena beliau benar-benar tidak memiliki uang untuk sekedar naik angkot. sehingga beliau memutuskan untuk memanfaatkan apa yang beliau punya dan memulai sebuah perjalanan panjang hari itu.. menempuh panasnya aspal di sepanjang jalan raya sumedang-cibiru..

Singkat cerita.. Akhirnya, sampailah beliau di cibiru.. Di sana beliau mencoba untuk mendatangi beberapa tempat, sembari berharap ada lowongan pekerjaan yang bisa ia dapatkan. Tapi, ternyata Allah masih belum berkehendak untuk memberikan beliau pekerjaan. Allah masih ingin menguji kesungguhan hamba-Nya yang sangat ia cintai ini..

Alhasil, beliau memutuskan untuk kembali menempuh sepeda kembali ke rumah.. menempuh jalan yang sama seperti ketika berangkat pagi harinya.. rute cibiru-jatinangor-sumedang.. (Sebagai catatan untuk kawan-kawan yang belum tau jarak cibiru sumedang.. Dengan motor berkecepatan rata-rata 60km/jam cibiru-jatinangor bisa ditempuh dalam waktu 20 menit "kalo ga macet", Jatinangor-Sumedang dicapai lebih kurang sekitar 1-1,5 jam).

Setelah lelah mengayuh, meter demi meter.. kilometer demi kilometer.. akhirnya sampailah ia di kota sumedang. Tempat di mana istri dan anak-anaknya bermukim. Baru sampai di rumah, istrinya mengabari bahwa di jatinangor sedang ada acara yang cukup penting.. dan mengatakan bahwa sang suami mendapatkan undangan untuk dapat turut hadir di sana. Istri mana yang tega melihat suaminya yang kelelahan mengayuh sepeda sepanjang hari.. Namun, ia paham betul karakter suaminya tercinta. Meskipun penuh kesederhanaan, namun ia adalah sosok yang tawadhu (rendah hati), penuh kegigihan... Setelah beristirahat sejenak, akhirnya sang Bapak memutuskan untuk memenuhi undangan tersebut, dan mulai mengayuh kembali dari sumedang menuju jatinangor. Luar biasa!

Dapatkah kawan-kawan membayangkan bila kita berada dalam posisi beliau? Kisah ini membuat saya berpikir dua tiga kali untuk urung berangkat ketika rasa malas itu kembali datang menggoda.. Dalam satu hari, bapak lima orang anak ini mampu mengayuh dari sumedang menuju cibiru pp.. dan tanpa mengeluh, memutuskan untuk memenuhi undangan yang ia terima dan kembali mengayuh dari sumedang menuju jatinangor!

Terakhir saya mendengar beliau masih belum mendapatkan pekerjaan.. Saya berdoa semoga Allah segera memberikan beliau pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluarganya. amin.

terima kasih ya Allah.. atas kesempatan yang engkau berikan, sehingga aku dapat bertemu hamba-hambaMu yang begitu luar biasa! Semoga suatu hari, aku bisa memiliki ketulusan.. kegigihan.. sama seperti mereka, hamba-hambamu yang tawadhu & senantiasa bersyukur kepadamu. amin

picture taken from http://ikhsanumuslim.files.wordpress.com



Saturday, February 28, 2009

Beragam Cara untuk Berbagi...

Bismillahirrahmanirrahiim....

Alhamdulillah akhirnya setelah sekian lama tidak menulis, saya bisa kembali meluangkan waktu untuk kembali berbagi.
Tema tulisan ini sebenarnya sederhana, tentang beragam cara untuk berbagi. Setiap orang (yang ingin berbagi) memiliki beragam cara untuk menyalurkan keinginannya untuk berbagi. Dan ternyata, berbagi ini tidak terikat atau tergantung kepada sedikit atau banyaknya materi. Namun, satu hal yang menjadi kesamaan di dalam hati mereka: hati yang kaya dengan rasa peduli terhadap sesama.

Berbagi tentunya tidak perlu terkendala dengan harta. Bahkan Rasulullah SAW pernah menghibur sahabatnya yang tidak memiliki harta benda sama sekali, namun memiliki motivasi yang tinggi untuk turut berbagi seperti para sahabat lain yang memiliki kecukupan harta. Beliau kurang lebih berkata, "memaafkan orang lain itu pun sedekah=D". Maka orang itu pun kembali bersemangat untuk lebih banyak bersedekah dengan memaafkan orang lain.

Sungguh menenangkan ketika kita menemukan orang-orang yang memiliki kerendahan hati dan ketulusan untuk membantu sesama di tengah berbagai kondisi negatif yang menghiasi negeri ini. Seperti Ibu Murni, yang tinggal beberapa meter dari perempatan lampu merah tol pasteur. Di sebuah bilik tembok yang berukuran lebih kurang 4 X 3 m, beliau tinggal bersama dengan ketiga orang buah hatinya. Namun, di tengah segala keterbatasan, beliau senantiasa menyambut kami (yang beberapa waktu lalu melakukan penelitian tentang anak-anak jalanan di sana) dengan segelas kopi susu hangat atau segelas teh botol dingin sebagai penyejuk dahaga. Dan tidak pernah merelakan kami untuk membayar minuman tsb.. Setiap kali kami datang, beliau selalu menyambut dengan ramah. Di tengah keterbatasan ekonomi yang beliau hadapi, beliau bahkan mungkin lebih kaya dari kebanyakan kita.. kekayaan hati beliau benar-benar membuat saya malu. Jujur, saya benar-benar malu. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau. Semoga keinginan beliau untuk mendapatkan modal dan membuka sebuah warung nasi bisa terwujud. amin.

Lain pula cara sekelompok anak-anak orang kaya di bilangan cinere, jakarta. Saya bersyukur ini benar-benar terjadi.. di sela-sela penayangana berbagai sinetron sarat kemewahan yang menampilkan anak-anak orang kaya dengan mobil-mobil dan rumah mentereng yang angkuh sikapnya kepada sesama, mereka benar-benar membuktikan bahwa tidak semua "anak orang kaya" itu lupa diri dan tinggi hati.

Tahukah kawan-kawan bagaimana cara mereka berbagi? sungguh unik.. setiap weekend sekelompok anak muda ini berpakaian perlente lengkap dengan mobil mewah mereka datang ke hotel-hotel berbintang di bilangan jakarta. Untuk apa? mereka bilang, kalau mereka tidak berpakaian demikian, mana mungkin mereka bisa masuk ke pesta-pesta "penuh gizi" di hotel-hotel mewah tsb. Namun, berbeda dengan para tamu VIP yang hadir malam itu.. mereka membungkus sisa-sisa makanan bekas pesta dan menyisihkan makanan-makanan mubazir yang tidak sempat dicicipi oleh orang-orang yang hadir di pesta tsb. Mereka melakukan hal yang sama di beberapa pesta malam itu.. Dan kemudian: mereka membagi makanan tsb ke anak-anak jalanan di bawah kolong jembatan.. gelandangan-gelandangan yang lama tidak makan.. melalui uluran tangan mereka, Allah berikan limpahan rizki dan kasih sayang kepada kaum terpinggir jakarta. Dan ini benar-benar terjadi! Mungkin amal mereka ini, membuat mereka lebih layak untuk memasuki pintu surga lebih dulu dibanding kita semua. Luar biasa!
Semoga Allah merahmati mereka. amin.

Kawan, ternyata ada beragam cara untuk berbagi.. tak terbatas pada kekayaan, jabatan atau siapa pun kita.. kalau demikian kawan, "Sudahkah kita memiliki cara untuk berbagi?"

Salam hangat untuk kawan-kawan semua.

wassalam


picture taken from http://www.onelegacy.org


Saturday, February 07, 2009

Tamu dari HAMAS silaturahim ke Jatinangor


Bismillah..

Sebenarnya berita ini agak mendadak saya terima.. baru kemarin siang saya menerima kabar bahwa seorang anak muda palestina kelahiran 1986 akan berkunjung ke bumi jatinangor dan berbincang dengan para anak-anak muda a.k.a mahasiswa unpad dan sekitarnya.

Alhamdulillah tadi siang beliau menyempatkan untuk bersilaturahim ke jatinangor selama lebih kurang 1 jam setengah. Beliau adalah Kang Muhammad, putra dari Abu Marzuq (Wakil Ketua Biro Politik HAMAS). Sayangnya, saya baru dapat hadir pada 30 menit terakhir. Sesi silaturahim ini berlangsung sederhana di sebuah masjid di bilangan Jatinangor dan dihadiri oleh lebih kurang 100an mahasiswa. Sebenarnya saya berpikir mungkin akan lebih baik bila bisa mengikutsertakan lebih banyak lagi masyarakat secara umum dalam silaturahim ini. Karena ada beberapa pertimbangan, pihak panitia memutuskan untuk tidak menyebarkan acara ini secara luas. Hanya dari mulut ke mulut. Insya Allah saya percaya ada alasan yang sangat penting dibalik kebijakan tsb. Saya perhatikan sebagian besar yang hadir adalah para mahasiswa, sebagian kecil di antaranya ada masyarakat dan orang "tua".

Kedua orang tua saya alhamdulillah berkesempatan untuk hadir dan duduk mendengarkan tuturan dalam bahasa arab fusha' yang panjang dan penuh semangat.. meskipun tidak terlalu banyak mengerti, namun pada waktu-waktu tertentu para hadirin menggemakan takbir secara serentak.. memang ada translator, tapi mungkin keterikatan hati inilah yang membuat kami "seolah" mengerti perkataan beliau.

Meskipun tidak terlalu lama memperhatikan dialog tsb, namun ada beberapa hal yang saya dapatkan dari dialog ini.. Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat.

Yang pertama, walaupun lebih muda satu tahun dari saya, namun Muhammad (begitulah ia disebut) tampak memiliki usia psikologis yang lebih tinggi dibandingkan usia kronologisnya. Mungin tidak seperti kebanyakan anak muda di Indonesia yang mungkin menghabisan hampir seluruh waktunya dengan keduniawian, beliau memiliki
jiddiyah (kesungguhan), wawasan yang sangat luas dan pemahaman yang dalam aplikasi medan perjuangan yang sesungguhnya: di dalam peperangan fisik yang penuh tekanan dan ancaman.

Kedua: Boleh jadi, saya pikir ini memang hanya masalah perbedaan tempat dan waktu. Bentuk perjuangan di palestina, mungkin berbeda dengan bentuk perjuangan di Indonesia yang konon katanya merupakan "surga para aktivis". Di negeri kita berbagai macam pergerakan tumbuh subur. Euforia pasca reformasi memberikan kita kelapangan untuk berkumpul dan berdiskusi bersama di sebuah tempat tanpa khawatir akan ditangkapi atau digrebek. Sedangkan di negara-negara timur tengah, berkumpulnya beberapa orang di dalam sebuah tempat bisa sangat berbahaya.

Ketiga, ketika salah seorang hadirin bertanya mengenai apa rahasia kesuksesan HAMAS dalam pesta demokrasi, dalam memenangkan kepercayaan rakyat palestina (khususnya gaza), dan yang paling anyar kemenangan di dalam peperangan melawan Israel; beliau menyampaikan sebuah hal sederhana yang sangat signifikan di balik kesuksesan yang mereka peroleh. Apakah itu? Beliau mengatakan bahwa kesuksesan yang HAMAS dapatkan tidak akan dapat dicapai tanpa kontribusi para ummahat (para ibu)! para ibu yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan mentalitas seorang pemenang! "tidak akan mungkin kami bisa memenangkan peperangan ini tanpa bantuan dari para ibu", kata beliau.

Beliau juga sempat menyampaikan bahwa zionis israel (la'natullah alaihim) telah melancarkan berbagai strategi untuk menggugurkan kepercayaan (rasa
trust) rakyat palestina terhadap HAMAS. Namun, ternyata semakin digencet semakin kuatlah rasa kecintaan rakyat palestina terhadap HAMAS.

Strategi Pertama, dengan membuat pesta demokrasi. Zionis merencanakan agar HAMAS kalah telak. Namun, di luar skenario zionis, Allah justru memberikan kemenangan mutlak kepada HAMAS (menandakan kepercayaan rakyat palestina yang besar kepada mereka; HAMAS).

Gagal dengan yang pertama, kemudian mereka melancarkan strategi kedua: menutup semua gerbang masuk untuk mengisolasi palestina. Bila hal ini terus dilakukan, zionis berharap rakyat palestina akan mendeskriditkan (baca: menyalahkan) pemerintah mereka: Hamas. Namun, subhanallah.. yang terjadi justru sebaliknya. Justru bertambah kuatlah kecintaan rakyat palestina kepada mereka. Gagal dengan upaya ini, selanjutnya mereka melancarkan strategi ketiga: serangan militer secara brutal. Dengan sebuah harapan agar bom-bom dan peluru-peluru yang zionis arahan ke bumi palestina membuat rakyat palestina putus asa. Sehingga rakyat akan berpikir bahwa kondisi tsb terjadi karena kesalahan HAMAS. Namun, kembali Allah tunjukkan kebesaran-Nya: justru rakyat palestina semakin percaya bahwa HAMAS memang laya untuk diandalkan. Memang benar janji Allah dalam QS Ar-Rahman: ".. Tak ada balasan bagi kebaikan, melainkan kebaikan jua".

Beliau juga sempat memberikan paparan mengenai konflik yang terjadi antara HAMAS dan FATAH. Dengan bijak beliau mengemukakan bahwa sesungguhnya di dalam tubuh FATAH terdapat orang-orang yang memang memiliki ketulusan untuk berjuang demi kejayaan palestina. " Tidak semua anggota FATAH seperti Mahmud Abbas", kata beliau. Nampak jelas bahwa taktik
devide et impera juga turut dilakukan oleh zionis Israel dan kroco-kroconya.

Demikian beberapa hal yang bisa saya bagi.. Seperti biasa sesi silaturahim ini ditutup dengan foto-foto bersama..=b khas indonesia!

Ana uhibbukum fillah akhii..
Kami akan selalu senantiasa mendukungmu wahai saudara ku!
Terus bergerak wahai pemuda!

wallahua'lam bishshawab

Sunday, February 01, 2009

mengapa banyak orang tua kini cukup dengan dua anak?

Bismillah..

Alhamdulillah, setelah beberapa waktu terakhir tulisan saya lebih didominasi oleh "kegeraman" dengan dunia politik, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk sharing tentang sebuah topik yang lebih ringan=D finally.. haha..

Inspirasi ini saya dapatkan dari perbincangan dengan bibi, sebutan bagi penjaga kosan saya. Sore hari, dua hari yang lalu kebetulan saya (akhirnya) Allah berikan kelapangan rizki untuk membayar kosan bulan januari yang sempat tertunggak selama 30 hari=b Di sore hari itulah, tanpa diduga beliau mengajak saya berbincang sejenak mengenai polah tingkah laku kawan-kawan tetangga saya di lingkungan kosan.

Awalnya beliau menanyakan kabar salah seorang kawan yang sudah beberapa hari ini tidak singgah ke kosan. Saya pun menjawab sekedarnya, "mungkin sedang urus S2, Bi...". Serba salah memang posisi saya.. Kalau saya katakan bahwa beliau sedang membangun bisnis, ada kemungkinan ia bisa didepak dari pondokan kami. Tapi, kemungkinan besar memang itu yang (saya dengar) ia lakukan: berbisnis. Maklum, ibu kos pernah berkata, "kos ini hanya untuk mahasiswa, bukan untuk karyawan atau orang yang sudah bekerja". Tapi, kenyataannya sebaliknya. Beberapa kawan memang sudah mendapatkan kerja, namun mengaku masih berstatus mahasiswa. Ya.. tidak ada salahnya memang. Mengingat kosan kami cukup terjangkau, dengan fasilitas yang bisa dibilang sangat memadai bila dibandingkan dengan kos-kosan lain di Bandung.

Perbincangan pun terus mengalir. Tampaknya saya lebih banyak menjadi pendengar yang baik. Beliau selanjutnya bertutur dengan logat jawanya yang sesekali masih terdengar jelas, "itu loh mas.. mas X itu loh.. suka bawa kawan perempuannya ke kamar". Saya masih terdiam. Beliau melanjutkan, "kadang-kadang sampai malam belum pulang-pulang! kadang datang siang-siang, kemudian pintunya ditutup. Saya sih bukannya mau buruk sangka ya mas.. tapi, mbo' ya pintunya jangan ditutup. Saya juga dulu kan pernah muda.. paham kalo sekali waktu sedang suka dengan lawan jenis. Tapi ya bagaimana kalau pintu ditutup kemudian ada setan yang lewat?". "Saya percaya kalau penghuni kosan sini orangnya baik-baik, tapi ya tolonglah mas.." Saya agak speechless memang menghadapi kawan saya yang satu ini.. terakhir ketika ibu saya datang, sempat disindir pulalah dia ketika ibu saya siang-siang melihat ia membawa kawan perempuannya (berjilbab pula) ke kamar dan kemudian ditutup. Tapi ya begitulah, tiada bergeming. Semoga Allah memberikan hidayah untuk membukakan hati beliau dan kita semua. amin.

Tak terasa lama juga sudah saya berdiri berbincang dengan beliau. Perbincangan terus berlanjut ke tingkah laku kawan-kawan yang lain, para penghuni lama (yang datang sebelum saya). Awalnya saya agak kurang enak karena Bibi ini bercerita dengan penuh semangat, terutama dengan volume suaranya yang keras dan jelas. Ini memang gaya khas beliau: kalau ngomong tidak bisa pelan-pelan.

Hingga keluarlah salah seorang kawan saya dari kamarnya di lantai bawah, dan kemudian ikut menanggapi. Ia menanggapi kawan yang tidak kunjung pulang, "ya.. ga boleh juga kita menjudge yang bukan-bukan.. mungkin dia memang sedang ada tugas kuliah di tempat kawannya". Kemudian ia menambahkan, "kita sudah pada besar-besarlah.. sudah bisa menjaga diri kita masing-masing". Bibi kemudian mengulangi pandangannya yang sempat ia sampaikan ke saya, "iya mas.. saya percaya.. tapi mbo' ya kalau ada kawan perempuan pintunya jangan ditutup!". "Tahu ga mas.. kenapa orang-orang zaman dulu itu senang anaknya banyak? karena anak-anaknya pada bisa saling menjaga diri..! kalau ada salah seorang di antara mereka yang bandel, yang lain mengingatkan 'ingat, kita jangan sampai menyusahkan ibu bapak'. Sehingga anak tsb pun tersadar kembali. Nah, kalau anak zaman sekarang? boro-boro... ibunya sampai nangis-nangis pun tidak sadar-sadar! itu sebabnya orang tua zaman sekarang ga pingin anaknya banyak-banyak. Cukup dua! kenapa? karena ngurus dua anak aja udah pusingnya bukan main!"

Mendengar kalimat tsb saya kemudian tersadar, "benar juga ya.. mungkin penyebabnya bukan hanya karena kendala ekonomi yang membebani untuk mewujudkan sebuah 'keluarga besar' dengan jumlah anak yang banyak. Tetapi lebih karena anak-anak zaman sekarang lebih sulit diatur dibandingkan dengan anak-anak di masa-masa sebelumnya"

Bagaimana kawan-kawan, ada yang memiliki keinginan untuk mewujudkan sebuah "keluarga besar"? ah, anak-anak zaman sekarang memang bikin pusing! (termasuk saya?)


Wallahu'alam

gambar diambil dari: http://alvianto.com/alvin/images/stories/Album/Keluarga/KelSampit.gif

Quote of The Day :

"Mantapkanlah diri untuk mengakui kealfaan diri saat kritikan tajam datang menyapa.. terasa berat,namun sesungguhnya meringankan!"

Label Cloud


 

Design by Blogger Buster | Distributed by Blogging Tips