Showing posts with label momentum. Show all posts
Showing posts with label momentum. Show all posts

Sunday, August 29, 2010

ANOTHER RAMADHAN STORY

"Sampai seseorang memiliki komitmen selalu akan ada keraguan, kemungkinan untuk mundur, ketidakefektifan. Ketika seseorang sudah berkomitmen kepada dirinya sendiri, takdir baik akan mengikutinya. Berbagai hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya akan muncul dengan sendirinya untuk membantu. Berbagai peristiwa akan muncul dari keputusan yang dibuat untuk mendukung orang tersebut dalam bentuk aneka kebetulan, pertemuan, dan bantuan materi yang tak terduga. Hal-hal yang tak terimpikan sebelumnya, akan muncul ke hadapannya begitu saja!” – Goethe

Mungkin ini adalah cerita seputar Ramadhan kesekian yang pernah kawan-kawan temukan di Ramadhan tahun 2010 ini. Namun saya berharap masih ada sedikit ruang yang tersisa untuk meluangkan waktu dan menikmati sharing pengalaman Ramadhan saya di tanah air sang Goethe=D

Sengaja saya membuka tulisan ini dengan rangkaian kata seorang yang sangat dihormati di negerinya. Kemana pun ia pergi, di sanalah dibuatkan prasasti dan museum sebagai pengingat bahwa ia pernah hidup sekali waktu di kala itu. Kini saya paham mengapa.. karena ia telah melalui sebuah jalan yang istimewa, penuh dengan “... aneka kebetulan, pertemuan, dan bantuan materi yang tak terduga..”, yang mungkin tidak dialami oleh kebanyakan orang.

Saya sepakat bahwa aneka kebetulan yang luar biasa ini dimulai dengan sebuah komitmen. Komitmen inilah yang secara kebetulan (lagi-lagi kebetulan=D) memungkinkan saya untuk terbang dan memperoleh sensasi pengalaman Ramadhan pertama saya di negeri Jerman. Meskipun sebagian kawan saya menyebutnya dengan istilah yang sedikit berbeda: “Keras kepala”=b Mungkin komitmen yang saya miliki masih jauh dari kadar komitmen Goethe saat itu, namun setidaknya saya merasakan betul bahwa kutipan inilah yang paling logis untuk menjelaskan keajaiban yang tengah saya alami saat ini=D Dan kini saya percaya bahwa keberuntungan tidak hanya datang sesekali.. bahkan berkali-kali! Begitu banyaknya hingga saya pun terkadang ragu untuk menyebutnya sebagai “keberuntungan”. Bukankah keberuntungan hanya datang sesekali?

Menjaga Komitmen

Serupa dengan komitmen, begitu pulalah kita memulai rangkaian ibadah puasa kita dengan sebuah niat. Sebuah niat yang baik tentu harus berlaku di mana pun kita berada. Bukan hanya ketika kita berada di lingkungan yang mayoritas, namun juga minoritas. Kalau saya boleh beropini, memang jauh “lebih mudah” untuk melaksanakan ibadah puasa di Indonesia daripada di Jerman. Mengapa? Ada beberapa fakta yang mendasari opini saya tsb=D

Yang pertama, dari segi durasi atau lamanya waktu berpuasa, kaum muslimin di sini tahun ini berpuasa lebih lama 3 jam dibandingkan di Indonesia. Pada hari-hari awal Ramadhan, kami mulai berpuasa sekira pukul 4 di pagi hari dan berbuka pada pukul 9 malam. Tentu lebih “menantang”, bukan?=D Entah mengapa, baru di sini saya mengalami sensasi “perut berbunyi”=b Bunyinya krg lebih begini: “Krutuk krutuk krutuk.. nguk nguk..” (baca: bunyi “nguk nguk” di akhir sptnya mrpkn efek resonansi dr yg irama pertama=b hehe..)

Kedua, terkait dengan “godaan” di kala berpuasa. Di sini adalah sangat lumrah bila ada sepasang muda-mudi slg bermesraan, beradu bibir di depan umum, termasuk di dalam bis. Bahkan sekalipun bila di sebelah pasangan muda-mudi tsb berdiri, terdapat seorang anak kecil di bawah umur! (baca: terkadang saya dan beberapa kawan asal Aceh mencoba mengingatkan mereka dengan sindiran terbuka smacam ini: “Ehem.. maaf mbak, mas kami ini sedang berpuasa!”. Tapi entah mgkn karena roaming bahasa, mrk pun ttp tidak tergugah=b hehe..)

Begitu pula ketika kita memasuki toko buku. Di sebagian toko buku di Jerman, terkadang dipajang secara terbuka berbagai kalender dan majalah dengan model tanpa busana.. pria maupun wanita! tp alhmd di kota Marburg tempat saya tinggal, tidak ditemukan hal yg demikian=D

Mengenai bab ini, suatu kali karena terdorong rasa penasaran, maka saya memberanikan diri untuk bertanya kepada guru kami, seorang perempuan muda berkebangsaan jerman. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa kalender tanpa busana tsb dipajang scr terbuka tanpa sensor di sebuah toko buku yg ramai dikunjungi, termasuk oleh banyak anak-anak kecil?Ini adalah sesuatu yang aneh bagi kami orang-orang Asia.. Dapatkah anda membayangkan, bila seseorang berniat membeli “produk” tsb dan melakukan pembayaran di kasir sementara di sebelahnya berdiri seorang anak kecil?”. Jawaban beliau cukup sederhana: “Karena hal tsb adalah sesuatu yang dianggap umum & wajar.. Dan kami tidak pernah mempermasalahkan hal tsb”. That’s all. So, Herzlich willkommen in Deutschland=D

Selain itu, tentu saja hampir seluruh orang di sekitar saya makan dan minum ketika kami tengah berpuasa.. karena ini bukan negeri yg mayoritasnya muslim, maka sebagian besar warganya makan dan minum=D tidak ada lantunan azan ketika waktu shalat tiba, tidak ada ceramah pengantar berbuka, tidak ada berbagai program khas Ramadhan seperti di “kampung halaman” kita, juga tidak ada panganan ta’jil semisal kolak, es timun suri, es belewah, dsb.. Hanya kurma yang tersedia di beberapa supermarket tertentu. Tapi alhmd, saya berhasil melepaskan kerinduan saya thd kolak ketika kemarin berkesempatan untuk berbuka puasa di KJRI Frankfurt=D hehe..

Menikmati Sekian Banyak Kebetulan

Di hari-hari awal, saya menemukan kesulitan untuk menemukan panganan halal selain Kebab berukuran besar dan sejenisnya yang banyak tersedia di toko-toko kebab milik orang Turki. Namun, seiring dengan berjalannya waktu,dilandasi oleh faktor “penghematan” (mengingat harga satu porsi Kebab “sangat mengkhawatirkan”=b) & keinginan untuk mencari “alternatif makanan halal” (baca: mencegah gejala perubahan wajah menjadi mirip Kebab akibat kebanyakan mengkonsumsi Kebab=b), maka saya pun menemukan kebetulan yang pertama=D

Kebetulan, di sebuah supermarket terdekat bernama Aldi dijual produk ayam berlabel halal (perlu dicatat bhw produk halal tidak tersedia di setiap daerah di Jerman, biasanya hanya tersedia di kota-kota besar) plus produk beras yg dijual dalam kemasan kotak berisi kantong-kantong beras berukuran 4 x 125 gram/kotak.

Kebetulan lainnya datang seiring dengan ditemukannya beberapa Toko Asia yg menjual berbagai bumbu instan, sambal ulek, dan berbagai barang-barang khas Asia. Meskipun tentu saja barang-barang yang dijual di toko tsb relatif agak mahal. Dengan seluruh bahan yang tersedia, tiba-tiba mendadak saya bisa memasak!=D

Khusus untuk bulan Ramadhan, organisasi muslim setempat kebetulan membuka sebuah acara buka puasa bersama selama tiga hari berturut-turut. Acara ini dihadiri oleh banyak orang, termasuk warga Marburg non muslim. Dibuka pula sebuah stand khusus yang menjual buku-buku Islam dan Al-Quran yang seluruhnya berbahasa jerman. Di stand ini pula, tersedia semacam pelayanan bagi warga non muslim yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam.

Meskipun termasuk kota kecil yang hanya memiliki satu buah masjid (lbh tepatnya: “sebuah rumah dgn kmr yg disulap mjd tempat shalat”), namun komunitas muslim di sini menurut saya sangat baik. Mereka memiliki hubungan yang baik dengan walikota setempat. Saat ini bahkan mereka berencana untuk membangun sebuah masjid atau semacam Islamic Center yang lebih besar di pusat kota.

Masjid yang ada saat ini terletak agak ke pinggir kota. Tentu saja cukup sulit ditemukan oleh orang asing yang baru saja beberapa waktu tiba di kota ini. Tapi alhamdulillah, kebetulan tiga orang kawan sekelas saya di tempat kursus asal Chechna seluruhnya muslim. Dan kebetulan mereka telah tinggal di Marburg selama lebih kurang 8 bulan, sehingga merekalah yang menunjukkan kepada saya dan kawan-kawan di mana letak masjid.

Saya dan kawan-kawan biasa mengunjungi masjid ini untuk melaksanakan shalat Jumat dan shalat tarawih ketika akhir pekan. Masjid ini dikelola oleh orang Arab. Sehingga khutbah jumat disampaikan full dalam bahasa Arab, dengan ringkasan dalam bahasa Jerman pada jeda di antara dua khutbah. Di dalam masjid ini kami berinteraksi dengan muslim dari berbagai negara termasuk Turki, Pakistan, Yaman, Somalia, Chechnya, Khirgistan, Afghanistan, dsb.

Salah satu kegiatan favorit kami di akhir pekan pada bulan Ramadhan adalah “berbuka puasa di masjid”. Alasannya sederhana saja: karena “seluruhnya gratis!”=b hehe.. Menu yang ditawarkan biasanya khas Arab, dengan hidangan utama berupa semacam nasi briyani, sayur dan daging (ayam/sapi).

Setelah berbuka, dilanjutkan dengan shalat Isya dan Tarawih. Tarawih di sini sama spt di Indonesia, berjumlah 8 rakaat plus Witir 3 rakaat. Salah satu hal yang menjadi tantangan kami pasca shalat tarawih adalah udara malam yang sangat dingin dan bis yang datang sekira satu jam sekali pada halte tertentu=D Untuk mencapai tempat tinggal, biasanya kami harus berjalan kaki antara 10-15 menit menuju halte terdekat, menunggu bus datang selama 15-20 menit, dan kemudian melanjutkan perjalanan selama lebih kurang dua puluh menit. Biasanya kami baru dapat tiba di kamar sekira pukul ½ 1 pagi=D

Seorang Kawan Baru

Saya cukup beruntung karena di lantai saya tinggal, terdapat tiga orang muslim lainnya; dua asal aceh dan satu asal Afghanistan. Yang terakhir inilah yang seringkali membuat waktu-waktu sahur dan berbuka kami di dapur terasa lebih menyenangkan. Di negeri asalnya, tampaknya beliau adalah orang yang sangat dikenal luas. Bagaimana tidak, ia muncul di televisi nasional setidaknya lima kali dalam sehari!

Kebetulan, jurusan Kimia tempat ia mengajar di Afghanistan tengah melakukan promosi besar-besaran mengenai kampus mereka terutama laboratorium yang mereka miliki. Sebagai seorang yg memperoleh gelar master dari Inggris, ia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi kepala lab di sana. Saat ini di Jerman, beliau berencana untuk mengambil Doktor. Selain sebagai dosen, beliau juga dipercaya oleh pamannya untuk menjadi semacam supervisor jarak jauh sebuah perusahaan besar di Afghan dengan 1300 tenaga kerja!

Meskipun cukup disegani di negaranya, beliau di mata kami adalah seorang kawan yang rendah hati,baik dan humoris. Dengan bahasa inggris seadanya, kami berinteraksi dan bertukar cerita. Tentang apa pun yang terlintas.. Tentang keseharian kami, kultur kedua negara, politik, sejarah,dsb. Begitu banyak hal baru yang saya peroleh darinya=D Termasuk di antaranya tips menikmati Yoghurt (yang menurut kami agak aneh=b) dengan menambahkan bawang putih, bawang merah, dan sedikit jeruk nipis. Tidak jarang kami pun menawarkannya beberapa jenis makanan Indonesia hasil “ramuan” kami. Perlu diketahui bahwa menjelang waktu berbuka, maka area dapur berada dalam genggaman kekuasaan kami para lelaki=D hehe.. Terkadang beberapa orang penghuni lainnya, termasuk orang jerman yang tinggal satu lantai dengan kami bergabung untuk turut mencicipi hidangan utama, ataupun sekedar untuk mengambil buah/kurma.

Puasa bukanlah Hambatan

Aktivitas favorit lain di akhir pekan adalah melakukan perjalanan keliling jerman. Kebetulan ada sebuah tiket khusus yang ditawarkan hanya pada akhir pekan seharga 37 Euro yang dapat digunakan untuk melakukan perjalanan ke seluruh jerman. Tiket ini berlaku satu hari penuh hingga pukul tiga pagi keesokan harinya dan dapat dipakai bersama-sama hingga max 5 orang. Dan puasa tentu saja tidak menghalangi hobi baru kami yang satu ini=b Biasanya kami melakukan perjalanan seharian penuh, non stop! Berangkat dari asrama sekira pukul ½ 7 pagi untuk mengejar kereta pukul ½ 8. Dalam satu hari, kami bisa mengunjungi hingga maksimal tiga kota. Jarak antara satu kota ke kota lainnya pun bervariasi; antara 2 jam hingga 3 jam perjalanan. Untuk pulang, biasanya kami menumpang kereta paling akhir yang sampai di stasiun Marburg. Lumrahnya kami sampai di Marburg sekira pukul 12 dini hari=b Orang jerman akan tergeleng-geleng melihat cara kami mengatur perjalanan kami.. hehe..

Namun, sayangnya tidak setiap muslim yang saya kenal menjalankan puasa. Alasannya pun beragam. Namun, saya biasanya tidak ambil pusing dengan hal tsb. Di sini, di sebuah tempat yang sangat jauh dari rumah, saya telah memutuskan untuk tetap berkomitmen. Karena dengan komitmen inilah (insya Allah) berbagai takdir baik kan mengikuti.. Mohon doa, agar kami senantiasa istiqomah=D

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...” QS.65:3



Friday, July 31, 2009

"Bapak dan Ibu Capres-Cawapres: Jadilah Anomali!"

Setelah beberapa lama berhenti menulis mengenai hiruk-pikuk politik, akhirnya saat ini saya kembali memutuskan untuk menulis.Bukan dalam kapasitas saya sebagai rakyat yang mendukung salah satu pasangan capres-cawapres, tapi lebih sebagai rakyat yang ingin agar bangsa ini dapat menjadi lebih baik.Tentunya dengan dukungan kawan-kawan, utamanya para bapak dan ibu capres-cawapres. Saya berharap bapak dan ibu serta kawan-kawan sekalian berkenan mempraktekkan perkataan Ali RA yang dikutip pak JK di salah satu baligho kampanyenya: "Dengarkanlah nasehat meskipun dari seorang anak kecil"=D

Bapak dan Ibu capres-cawapres yang terhormat,saya ingin bertanya: (dalam dunia politik) Bolehkah kita memutuskan untuk menjadi anomali (dalam kebaikan)? karena tidak sedikit kawan saya yang memberikan labelling (baca: cap) tertentu bagi dunia politik. Sebagian kawan-kawan bilang, "Politik itu kejam!".. sebagian lagi mengatakan, "di dalam dunia politik tidak ada kawan yang abadi.. satu-satunya kawan yang abadi bagi para politisi adalah kepentingan mereka sendiri".. ceunah (baca: katanya=b).Inilah persepsi yang ada di dalam benak sebagian besar mayarakat terhadap dunia politik dan politisi kita.. yang tumbuh melalui perilaku populer (baca: perilaku yang umum dilakukan) yang ditampilkan oleh (tidak sedikit) politisi bangsa kita. Dan pada akhirnya menguatkan rasa hopeless akan terwujudnya kondisi yang lebih baik di negeri kita.Berdasarkan asumsi sederhana ini, saya pikir cukup untuk mulai mempertimbangkan menjadi seorang pemimpin yang anomali (dalam kebaikan)!

Salah seorang guru saya pernah bilang, bahwa orang-orang terdepan merupakan orang-orang minoritas.. sedikit jumlahnya! Mereka ini adalah orang-orang yang masuk dalam kategori "anomali" di tengah masyarakatnya.Istilah asingnya: "Creative Minority"! Klo berdasarkan referensi psikologi yang pernah saya baca, orang-orang terdepan ini bahkan termasuk ke dalam golongan "orang-orang abnormal secara statistik"!=b ya,karena secara statistik, mereka ga seperti kebanyakan orang..

Terlepas dari keren atau tidak keren,wajar atau tidak wajar.. menurut saya, status "anomali" ini penting banget pak,bu.. karena yang saya pahami, seorang great leader umumnya memiliki sesuatu yang membedakannya dari kebanyakan orang.Menurut saya, "A great leader is a truly distinguish person!"

Sekaranglah waktu yang paling tepat bagi bapak & ibu untuk menjadi seorang "anomali", berani membuat sesuatu yang berbeda (dalam kebaikan). Paparan berita utama di halaman media-media terkemuka tentang politik negeri kita sesekali perlu dihebohkan dengan suatu hal sederhana yang berbeda (karena sudah lama tidak dilakukan) yang ditularkan melalui keteladanan pemimpin.

Misalnya, setelah prosesi penghitungan KPU tentang PILPRES selesai ada baiknya bapak dan ibu kembali berkumpul untuk bertukar gagasan program yang konstruktif bagi perbaikan bangsa ini.Mungkin sekaligus sebagai sarana silaturahim sederhana dalam suasana yang hangat. Meskipun bapak dan ibu adalah 6 orang warga negara terbaik, sebaik-baiknya gagasan yang bapak ibu miliki, tentunya mungkin antara satu sama lain ada yang bisa luput toh?Ada hal baik yang dimiliki kandidat no.1, tidak dimiliki no.2 & 3.. Atau mungkin saja ada yang dimiliki kandidat no.2 tidak dimiliki kandidat no.1 & no.3.. Atau mungkin ada ide menarik yang dimiliki kandidat no.3, tidak dimiliki kandidat no.1 & 2. Jadi saling berbagi hal positif=D Bagaimana pak, bu?

Ide lain yang sempat terpikir oleh saya, adalah dengan membuka kesempatan bagi seluruh warga negara Indonesia untuk memberikan masukan nyata terhadap program strategis pemerintah 5 tahun ke depan.Buka salurannya, dengan bantuan lembaga terkait, media elektronik (utamanya TV dan Radio) dan mungkin juga mahasiswa.Lihat secara lebih arif, apa hal fundamen yang selama ini menjadi hambatan bagi kita untuk menjadi negara besar.. kemudian dari sana pilih prioritas dan laksanakan dengan sebaik-baiknya. Atau bisa juga dikembangkan melalui program-program strategis yang bapak dan ibu janjikan dalam kampanya.. Para capres-cawapres bem berbagai universitas bahkan sudah melakukannya sejak jauh-jauh hari pak, bu.. menampung aspirasi 'masyarakat kampus' sebelum menentukan proker fix=D

Kemudian, satu harapan sederhana yang seringkali terlintas di benak saya.. tentang budaya hidup sederhana pak,bu.. dapatkah bila salah seorang dari Anda telah resmi menjadi presiden & wakil pres RI periode 2009-2014 memberikan contoh nyata keteladan budaya hidup sederhana? Saya yakin masih banyak pos-pos anggaran-anggaran yang terlalu besar terkait jabatan bapak bisa diefisienkan.. sehingga bisa dialokasikan untuk saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan. Bila bapak dan ibu mau melakukan ini,Insya Allah pak,bu.. semangatnya akan menjalar ke seluruh lapisan masyarakat.. Pundak maupun dada bapak dan ibu pun akan terasa lebih lapang dalam menjalani amanah ke depan=D yakin pak,bu!

Sebagai inspirasi ringan pak,bu.. kita rame-rame nonton bareng film "CHANGE " yuk pak,bu=D Mengisahkan sebuah cerita fiksi tentang seorang yang menjadi perdana menteri jepang dalam usia yang sangat muda.. menurut saya, pesan moralnya penting pak,bu.. Kalo mau nonton sendiri juga boleh=D nanti didiskusikan di rapat kabinet=b hehe.. sekilas infonya bisa dilihat di sini pak,bu: http://reza-fathur.blogspot.com/2008/12/lets-change-indonesia.html

Terakhir pak,bu.. Jangan pernah ragu untuk meminta maaf bila kita memiliki kekeliruan.Baik yang disengaja maupun tidak.. Meskipun saya tahu, terkadang berat kita untu kita lakukan.. Apalagi bila sudah menyangkut "nama baik" (baca: gengsi) kita. Tapi, yakin pak.. bu.. perkataan yang baik, dan pemberian maaf itu begitu berarti bagi diri dan sesama=D

Saya pribadi mohon maaf pak,bu.. kadang2 suka gemes melihat bapak dan ibu.. jadi suka ngomongin yang enggak-enggak di belakang bapak dan ibu=b ya,mungkin karena saya tidak punya cukup ruang untuk menyampaikan pandangan saya secara langsung kepada bapak dan ibu sekalian. Jalan yang bisa saya pilih selain lewat mimpi hanyalah lewa tulisan semacam ini=D maaf ya pak,bu..

Keempat hal yang saya sebutkan sebelumnya adalah gagasan-gagasan sederhana yang masih anomali (untuk ukuran seorang pemimpin bangsa). Namun, sebagian besar justru telah begitu populer di kalangan para penggerak kegiatan kemahasiswaan di kampus-kampus.
Saya yakin, kawan-kawan yang lain pun punya banyak ide-ide konstruktif lainnya.. jadi nanti bisa menambahkan ide lainnya=D

Jadi, maukah bapak dan ibu memutuskan untuk menjadi seorang anomali dalam kebaikan? saya pikir pak,bu.. rakyat kini tengah menanti gebrakan nyata bapak dan ibu sekalian.. sesuatu yang berbeda! maka jangan ragu untuk menjadi "anomali" dalam kebaikan! Inilah sebabnya kini kata "perubahan" menjadi begitu dirindukan di seluruh belahan dunia.. karena perubahan itu dimulai dari sesuatu yang baru, sesuatu yang tampak aneh justru karena belum pernah dilakukan!=D

Wednesday, May 06, 2009

"Sebuah Pengingat Bagi Para Pengamat Politik"

Jujur.Saya sebenarnya enggan tertawa dalam mengamati berbagai hasil analisa capres-cawapres yang ditampilkan di TV akhir-akhir ini. Apalagi, boleh dikatakan bahwa saya termasuk orang yang senantiasa menantikan ide-ide segar dari kacamata para pengamat politik (baca: political analyst) sebagai 'second opinion' yang mampu memberikan sebuah 'penyegaran' terhadap fenomena politik yang sedang hangat di republik ini. Hasil analisa tsb menjadi menarik ketika disampaikan dengan gagasan sederhana yang realistis mencerahkan, dan mampu mengundang para pembaca untuk larut 'menerka-nerka' kemana sebenarnya alur pikir sang pengamat kan membawa kita.

Namun, apa boleh buat.. ketika akhir-akhir ini analisa-analisa tersebut menjadi terlalu mudah ditebak. Dorongan saya untuk tertawa kini menjadi kian menguat! Sebagian terlalu mudah ditebak dalam hal keberpihakannya pada salah satu calon. Sementara sebagian yang lain, entah karena kehabisan gagasan atau apa, mulai mengeluarkan analisa-analisa yang sebenarnya sudah tidak up-to-date (baca: kurang layak diterbitkan).Apakah sekedar upaya mempertahankan eksistensi? Hilang sudah minat saya.

Lihat saja misalnya hasil analisa yang dirilis oleh FISIP UI mengenai popularitas capres baru-baru ini. Dikabarkan bahwa popularitas Prabowo menngejar SBY. Menurut saya, untuk sebuah institusi yang cukup kompeten, topik ini kurang 'mencerdaskan'. Mengapa?Sederhana saja: Prabowo sudah tidak mungkin menjadi capres. Mau memakai berbagai struktur & gaya pembahasaan apa pun,tetap saja sangat tidak memungkinkan.Perolehan suara Gerindra (plus katakanlah, dukungan partai-partai kecil yang dikantongi) masih sangat jauh di bawah ambang batas 20%. Inilah yg disebut 'kurang mencerdaskan'. Isu yang sebenarnya tidak perlu dibahas lagi kok dibahas.

Contoh lain misalnya sorotan mengenai analisa terhadap elektabilitas pasangan JK-Wiranto. Berita pagi ini mengabarkan bahwa seorang peneliti di Makassar menyampaikan bahwa peluang pasangan tsb sangat besar. Menarik. Namun, kurang ilmiah. Mengapa?Kurang data! Saya pikir tantangan terbesar pasangan tsb saat ini adalah bagaimana caranya untuk lolos dari treshold 20% sbg prasyarat untuk maju menjadi capres. Tapi mengapa tidak ada media yang menyoroti?Silakan Anda simpulkan sendiri.Saya pikir para pengamat tentunya jauh lebih cerdas dalam menyadari isu ini. Oleh karena itu, sampai dengan saat ini saya masih meyakini bahwa hanya 2 pasangan capres-cawapres yang berkemungkinan besar untuk maju dalam PILPRES 2009 : Mega-Prabowo dan SBY-?.

Menyambung tulisan saya sebelumnya (baca "Menakar Kekuatan Partai Politik Besar Jelang PILPRES 2009), bagaimana kalau sekarang para pengamat mulai fokus menyoroti perihal "Visi Kekuasaan" (baca: prioritas agenda bila berkuasa). Menurut saya, isu ini jauh lebih menarik untuk dibahas daripada isu popularitas capres-cawapres yang melulu disoroti.

Tawaran Kontrak Politik PKS, misalnya. Kenapa tidak dipublish secara terbuka dan mulai diperbincangkan? Atau misalnya Kontrak Politik PDIP yang disampaikan saat kampanye PILEG kemarin, saya pikir sangat menarik untuk dikerucutkan lebih spesifik lagi sehingga tidak terlalu umum dan mengawang. Atau visi kekuasaan SBY yang secara de facto (berdasarkan perolehan suara PILEG) dipastikan akan kembali menjadi presiden periode 2009-2014?

Ide lain yang cukup penting untuk dikaji adalah mengenai fenomena menurunnya kontribusi (atau menurunnya sorotan dan publikasi?) para lembaga kemahasiswaan atau organ-organ ekstra pemuda terhadap pengawalan proses PILPRES 2009 yang baik. Sejauh mana mereka mengkritisi "Visi Kekuasaan" para kandidat capres-cawapres, dan lain sebagainya.

Nah,demikian opini saya dari kacamata rakyat jelata. Bagaimana menurut anda ?

picture taken from: http://lovesandcares.files.wordpress.com

Friday, April 24, 2009

"MENAKAR KEKUATAN PARTAI POLITIK BESAR JELANG PILPRES 2009"

Kondisi absurd dalam geliat manuver koalisi partai-partai besar di Indonesia menuju pemilihan kursi RI-1 & RI-2 bulan Juli mendatang, merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk mengetahui kekuatan sebenarnya dari partai-partai besar. Mengapa? Karena dalam posisi kritis seperti inilah (yang berkaitan dengan kekuasaan), keluarlah tabiat dasar sesungguhnya dari para penggerak partai!

Momentum ini adalah kesempatan yang sangat tepat (bagi masyarakat) untuk mendapatkan gambaran yang memadai mengenai KESOLIDAN SDM INTI PARTAI (baca: KESOLIDAN INTERNAL PARTAI) sekaligus KEJELASAN VISI KEKUASAAN (baca: PRIORITAS AGENDA BILA BERKUASA) dari partai-partai besar. Dua hal inilah yang menurut penulis merupakan dua indikator yang sangat signifikan dalam mengukur keterandalan sebuah partai politik dalam mewujudkan kekuasaan yang berorientasi pada kemaslahatan rakyat banyak.

Hukumnya sederhana saja:

KETIDAK SOLIDAN SDM INTI PARTAI terhadap kebijakan formal partai (terlihat dari banyaknya perpecahan di dalam tubuh partai) mengindikasikan bahwa sebuah partai "BELUM SIAP UNTUK MEMIMPIN NEGERI!" mengapa? sederhana saja, bagaimana mungkin bisa optimal memberikan kebermanfaatan bagi rakyat banyak bila untuk mengatur dirinya sendiri saja belum mampu??

VISI KEKUASAAN YANG TERLALU MENGAMBANG dan TERLALU NORMATIF mengindikasikan bahwa sebuah partai tidak memiliki gagasan yang aplikatif terhadap berbagai permasalahan bangsa! Sebagai warga negara yang optimis, kita boleh saja berbaik sangka bahwa (mungkin) ada sedikit fungsionaris partai yang memiliki kompetensi untuk menyumbangkan sumbangsih gagasan yang solutif bagi bangsa, namun tidak ada pengaruhnya sama sekali bila ide dan gagasan brilian tsb hanya "membeku di kepala"! Inilah kejahiliahan model baru: kebodohan yang dikemas dalam kepala kecerdasan! Jadi bagi partai yang seperti ini, jangan salahkan bila partai anda diberi label besar-besar sebagai PARTAI YANG TIDAK KOMPETEN!

Mengacu kepada dua poin utama yang saya kemukakan di atas, marilah kita mulai melihat kondisi & realita terkini dari partai-partai besar yang ada saat ini. Inilah analisa sederhana saya menyangkut kondisi partai-partai besar dewasa ini.

Pertama, KESOLIDAN INTERNAL PARTAI. Secara umum, (hingga saat ini) saya melihat bahwa partai-partai besar belum memiliki kesolidan internal partai yang memadai!

Kita lihat bagaimana PAN (terindikasi) terpecah akibat manuver Amien Rais yang mengumpulkan fungsionaris partai tanpa persetujuan Sutrisno Bachir, kemudian GOLKAR yang semakin terlihat kurang harmonis dengan adanya "pertemuan tandingan" yang dimotori oleh Akbar Tanjung tepat ketika Rampinassus partai Golkar yang dipimpin JK berlangsung, PKB sempat diwarnai dengan perseteruan antara Muhaimin & Gusdur beberapa waktu lalu, PPP dengan perseteruan antara Suryadarma & Bachtiar Cahmsyah yang dirasionalisasi sebagai 'miskomunikasi' tingkat elite, DEMOKRAT sempat diterpa angin kurang sedap antara ketua dewan pembina dengan wakil ketua dpp, potensi ketidakharmonisan diprediksi bertambah besar seiring dengan terlalu dominannya peran ketua dewan pembina dibandingkan ketua umum partai tsb). Kesolidan PKS, meskipun tergolong sepi dari isu perpecahan internal, masih perlu diuji kembali mengingat masih beragamnya nada dari para elite kadernya dalam memberikan statement terhadap arah koalisi, sedangkan PDIP pun saya nilai memiliki potensi ketidakharmonisan mengingat adanya historis pecahan kader inti PDIP yang membuat partai baru.

Saya pikir,"ketidakharmonisan" perlu dibedakan dengan "dinamika pendapat/gagasan". Perbedaan dari kedua terminologi ini adalah pada ketepatan waktu/situasi & efeknya terhadap perbaikan partai.Artinya, dinamika pendapat yang sehat tidak akan berujung pada ketidakharmonisan hubungan antara individu partai, terlebih antara seorang significant person di dalam partai dengan significant person lainnya di dalam partai tsb, yang membawa pada penurunan kualitas partai!. Dinamika pendapat dapat terjadi pada waktu & situasi dimana individu partai berada pada sesi brainstorming atau sharing, namun bukan pada sesi pengambilan sikap final partai! Ketika sikap final partai (setelah menampung berbagai dinamika pendapat yang ada) memutuskan bahwa sikap partai adalah A, maka seluruh fungsionaris partai mampu bersikap dewasa dan mengatakan A!! itulah makna soliditas.

Kedua, KEJELASAN VISI KEKUASAAN (Prioritas Agenda bila Berkuasa). Menurut hemat saya, belum ada satu partai pun yang memberikan sosialisasi yang memadai mengenai poin ini!

Masyarakat selayaknya berhak mendapatkan porsi yang lebih memadai mengenai VISI KEKUASAAN dari partai-partai besar yang berpotensi memegang kekuasaan. Namun sekali lagi, bukan slogan atau obrolan-obrolan normatif yang mengambang!

Partai diharapkan mampu untuk memaparkan suatu gagasan yang SOLUTIF, SEDERHANA & NYATA. SOLUTIF berarti memberikan jawaban yang terukur & realistis terhadap penyelesaian masalah strategis bangsa, SEDERHANA berarti applicable dan terpaparkan dengan jelas sehingga memungkinkan terjadinya fungsi controlling yang optimal dari publik, sedangkan NYATA berarti sesuatu yang bukan bualan atau angan-angan yang berpotensi untuk segera dilupakan, langsung dapat mulai diaplikasikan sejak hari pertama berkuasa (tanpa menafikan konsep gradualitas dan kontinuitas) dan memiliki jaminan sosial terhadap terlaksananya gagasan tsb!

Selaras dengan konsep KONTRAK SOSIAL, maka sesungguhnya kekuasaan itu pada hakikatnya adalah sesuatu yang dipercayakan oleh rakyat kepada seorang pemimpin yang amanah, sehingga (kekuasaan tsb) dapat ditarik kembali bila sang pemimpin kelak mengkhianati nilai-nilai kebenaran & merugikan kepentingan masyarakat!

Di poin inilah seharusnya lembaga mahasiswa, semisal BEM SE-INDONESIA memiliki tanggung jawab besar!! Bagaimana untuk membantu mengondisikan agar rakyat bisa mengenal lebih banyak terhadap pemimpinnya. Bukan sekedar menjadi pengamat pasif yang hanya bisa memberikan statement terhadap perilaku politisi!! Lebih dari itu, BEM SE-INDONESIA diharapkan mampu untuk mewujudkan TRUST dan OPTIMISME rakyat Indonesia terhadap keberlangsungan bangsa ini ke depan! Ayo bangun dan tunjukkan geliatmu kawan!

Saya mengajak seluruh mahasiswa untuk menjadikan momentum ini sebagai momentum untuk menemukan kembali ISLAND OF INTEGRITY (baca: Titik Awal Perbaikan) yang telah lama hilang dari dunia perpolitikan kita. Inilah waktunya untuk kembali menciptakan optimisme baru akan kondisi bangsa yang lebih baik!

Siagakan mata, telinga dan hati kita! Berdasarkan dua indikator tadi, nyatalah bahwa hingga kini PARTAI-PARTAI POLITIK BESAR TERBUKTI BELUM MAMPU MENUNJUKKAN KESIAPANNYA UNTUK MEMIMPIN NEGERI!!

Semoga tulisan ini sedikit banyak dapat menjadi alat bantu untuk menoropong absurditas kondisi perpolitikan bangsa kita secara lebih proporsional! amin.


picture taken from: http://media.photobucket.com


Wednesday, April 08, 2009

Doa Kemenangan

Ya Allah, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia

Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya

Engkau pencipta dan pelindungnya

Ya Allah, perbaiki hubungan antar kami

Rukunkan antar hati kami

Tunjuki kami jalan keselamatan

Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang

Jadikan kami orang muda yang menghormati orang tua

Dan orang tua yang menyayangi orang muda

Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman

Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian

Ya Allah, wahai yang memudahkan segala yang sukar

Wahai yang menyambung segala yang patah

Wahai yang menemani semua yang tersendiri

Wahai pengaman segala yang takut

Wahai pengkuat segala yang lemah

Mudah bagimu memudahkan segala yang susah

Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran

Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak

Engkau Maha Tahu dan Melihatnya

Ya Allah, kami takut kepada-Mu

Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu

Jaga kami dengan mata-Mu yang tiada tidur

Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus

Kasihi kami dengan kuadrat kuasa-Mu atas kami

Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami

Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami

Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara

Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami

Ya Allah, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang

Ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami

Ya Allah, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami

Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri

Ya Allah, jadikan kami kebanggaan hamba dan Nabi-Mu Muhammad SAW di padang masyhar nanti

Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu

Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab

Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku, ummatku

Pemimpin bagi para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan

Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera

Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

—————————————————————————————————

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami,

dan kokohkanlah pendirian kami...” (QS. Al-Baqarah: 250)

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan

di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

(QS. Al-Baqarah : 201)

Amiin Yaa Rabbal’Alamiin********


picture taken from: http://dodiprananda.files.wordpress.com dan http://www.habibieafsyah.com

Monday, March 09, 2009

Peluang Seminar International Gratis ke Luar Negeri!

bismillah...

Kawan-kawan, berikut ada info yang cukup menarik untuk diikuti.. terlebih bagi kawan-kawan yang tertarik dengan isu ekonomi atau kebijakan publik yang berkaitan dengan "Resesi Ekonomi Global". Kalo kawan-kawan lulus seleksi, bisa diberangkatkan ke beberapa negara loh! termasuk Amerika dan Vietnam kalo ga salah.. Persyaratannya juga ga terlalu neko-neko. APPLICATION DEADLINE: 1 APRIL 2009. Saya lagi pasang kuda2 juga nih=b kalo Singapura ga lolos, mungkin saya mau coba ikut daftar juga program ini. Mungkin kita bisa berangkat sama-sama kawan2=D Mangga di bawah ini infonya:

The 19th New Generation Seminar

"The Global Economic Crisis: Impacts and Responses in Asia"

October 4-18, 2009

Honolulu, Hawaii; Seoul, Korea; Hanoi, Vietnam

Now accepting applications for the 2009 Program. Deadline: April 1

Each year the East-West Center invites rising young leaders from the United States and Asia Pacific to participate in The New Generation Seminar (NGS), a two-week intensive educational, dialogue and study tour travel program. The program is developed around a thematic focus and provides participants with an opportunity to strengthen their understanding of Asia Pacific-U.S. developments and challenges, build a regional network and to become leaders with a more international perspective. The first week of the program is held in Hawaii. In discussions with East-West Center researchers, other experts in the Hawaii community and one another, participants are introduced to key regional policy issues such as international relations, security, economics, population, health and environment. The second week involves field travel to either the United States or Asia Pacific for exploration of the program theme.

2009 Theme: "The Global Economic Crisis: Impacts and Responses in Asia"

The world is facing what may be the first truly global economic crisis. The financial meltdown that began on Wall Street has become a crisis that reaches deep into the globally integrated financial and trading systems, posing very serious challenges for countries around the world. Asia’s vastly diverse economies have experienced the fallout in different ways, all of which are testing political, economic and social structures across the region.

The 19th New Generation Seminar will provide an opportunity for policy and decision-makers from Asia Pacific and the United States to develop a comprehensive perspective of how the financial crisis is affecting regional economies, how countries are responding nationally, and what countries are doing together. Participants will travel to Korea and Vietnam to compare the challenges and policy responses in two Asian countries representing different stages of economic development and different political systems. In Korea participants will examine how the crisis has affected a newly industrialized economy that has been one of Asia’s success stories since the 1997 Asian financial crisis. Vietnam offers a view of the impact on an emerging economy that has had the second highest growth rate in Asia for several years, but still remains a developing nation. Meetings and visits will expose participants to a wide range of perspectives from government, private sector, labor, academia, civil society and the media to better understand the causes, consequences and future implications of this unprecedented challenge to the global economy.

For full information about the NGS please download the 19th NGS Background Summary

Who Can Apply

The New Generation Seminar involves 12-14 participants aged mid-20’s to late 30’s, approximately 8-10 from Asia Pacific and 4 from the United States. The program seeks to engage “communicators” and “leaders,” those individuals who are in a position to shape and influence policy and decision-making in their countries, regions or local communities. Primarily these leaders will be involved in political processes. Past participants have included members of national, state or provincial government assemblies or ministries, young mayors or governors, city council members, up and coming members of political parties, leaders of political party youth wings, political advisers and other elected officials. The NGS also includes leaders from civil society organizations, media, business and law. The program is geared toward professionals working outside of academia.

The strongest candidates for the program will be:

· Working professionals in their mid-20s to late 30s;

· Political and community leaders or communicators with broad-based policy knowledge and influence;

· Individuals with limited opportunity for international travel;

· Fluent in English.

Candidates need not be specialists in the program theme; indeed, as stated above, we prefer candidates with broad based policy profiles who could benefit from deepening their understanding of the current economic crisis.

How to Apply

Participation in the New Generation Seminar is a competitive process. Nominations are received from a variety of U.S. and Asia Pacific organizations and qualified individuals are welcome to submit applications on their own. The applications and nominations are reviewed by an East-West Center Selection Committee, which makes the final selection of candidates.

To apply, please submit the following:

· The Application Cover Sheet (Click here to download. You may type directly into this Word document).

· A brief written statement about why you wish to participate in the 19th New Generation Seminar (not more than one typewritten double-spaced page, please). In responding please consider what you feel that you can contribute to the program and what you hope to gain from participating given your current leadership positions/roles, especially with regard to this year’s program theme.

· One-paragraph professional biography summarizing your current work and highlighting your leadership experience and those aspects of your resume you think are most important for the selection committee.

· Copy of resume to include professional and educational background.
Resume or CV should clearly indicate years and type of education, title of position held, name of employer, dates spent at each position, and most importantly a brief outline of specific responsibilities or accomplishments in each position.

· Two (2) letters of professional recommendation on official letterhead with current contact information for each person writing a recommendation.

For a printed summary of the application requirements, please download the Application Instructions and Cover Sheet.

APPLICATION DEADLINE: APRIL 1, 2009

You may send applications via:

E-MAIL: ngs@eastwestcenter.org

FAX: (808) 944-7600

POST: New Generation Seminar, East-West Seminars
East-West Center, 1601 East-West Road, Honolulu, Hawaii, 96848-1601, USA

For questions or confirmation of receipt, please contact:

TEL: (808) 944-7682

We will confirm receipt of the application within 5 working days. If you do not hear back from us, please follow up.

Applications must be received at the East-West Center by the application deadline in order to be considered.

You will be notified of the results by June 15, 2009.


info lengkap dapat dilihat di: http://www.iief.or.id (pilihan strata non-gelar)


Saya akan sangat senang sekali kalau ada di antara kawan-kawan yang berhasil lulus ikut program ini sehingga bisa lebih banyak berkontribusi bagi diri, keluarga dan masyarakat ini. Mari tumbuh bersama kawan! Sukses!


Saturday, March 07, 2009

Hari Ini Saya Sedikit Bermimpi... Haha...

Bismillah..

Hari ini.. sabtu, 7 maret 2008 adalah hari yang mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu hari yang cukup penting dalam hidup saya. Bagaimana tidak, mungkin hari ini adalah salah satu titik persimpangan jalan yang menjadi faktor penentu kehidupan saya di masa yang akan datang. Bagaimana saya berkontribusi, bagaimana saya membangun diri. Meskipun memang hari ini bukanlah segalanya, namun tidak ada salahnya untuk menghargai setiap jenak waktu yang terlewati hari ini.

Ini adalah pengalaman pertama saya mendapatkan "panggilan resmi" dari sebuah institusi formal untuk hadir dan menjalani interview. Pengalaman pertama ini menjadi semakin menarik karena interviewer saya (orang yang mewawancarai saya) bukanlah sembarang orang. Beliau adalah seorang associate professor lulusan Princeton University, yang saat ini diamanahkan menjadi vice dean of academic affair di Lee Kuan Yew School of Public Policy Singapore. Akademisi berusia 38 tahun yang bernama lengkap Scott Fritzen, PhD ini adalah seorang expert dalam bidang pengembangan kebijakan pengentasan kemiskinan, kebijakan antikorupsi dan analisa organisasi di negara-negara berkembang di asia, termasuk Indonesia. It must be a great moment to learn!

Nuansanya menjadi semakin dramatis karena bisa dikatakan saya kurang tidur tadi malam. Tiba di jakarta sekitar pukul 1/2 12 malam, dan baru tidur sekitar pukul 1 pagi. Alhasil, ketika bangun untuk mengambil air wudhu untuk shalat shubuh, tampak cekungan di mata saya yang merah. Butuh upaya yang sedikit lebih dari biasanya untuk membuat mata saya terjaga.

Singkat cerita, berangkatlah saya dari rumah jam 6.30 pagi. Ditemani oleh ayah saya, lengkap dengan pakaian berdasi kami pun memulai perjalan menuju Hotel Sari Pan Pacific di bilangan Jl. Thamrin, jakarta pusat dengan menggunakan angkutan umum. Saya mendapatkan jadwal interview pukul 10 pagi, yang kemudian dilanjutkan dengan tes matematika & tes reading+writing pada pukul 12 siang. Saya mengajak ayah saya untuk ikut serta sebagai penunjuk jalan menuju ke tempat tujuan. Maklum, saya tidak begitu hafal jalan-jalan di jakarta. Meskipun memang bundaran HI-Thamrin-Istana adalah salah satu "rute wajib" para aktivis penggemar aksi yang cinta damai. haha...

Setelah sampai di Lenteng Agung, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Kereta Api Ekonomi AC menuju Gondangdia. Satu hal yang bisa saya katakan sebagai keuntungan bila berjalan bersama dengan ayah saya adalah karena semangat silaturahimnya yang begitu luar biasa. Mulai dari supir angkot, tukang ojek sampai penjaga toilet dan mushola di stasiun lenteng agung menyapa beliau. Bahkan yang terakhir sampai rela meminjamkan mejanya sebagai tempat bagi saya untuk meluangkan waktu sejenak membaca beberapa bahan yang belum sempat saya baca di sela jenak waktu menanti kedatangan kereta kami. Entah apa yang beliau lakukan sehingga sedemikian banyak orang yang tak sungkan menyapa kami. Jujur saya mengaku tidak ada apa-apanya dalam hal ini dibandingkan beliau.

Akhirnya kereta api pun tiba, dan kami pun bergegas masuk. Semilir AC di dalam kabin kereta ekonomi pagi itu cukup melegakan. Terutama mengingat tidak terlalu banyak orang yang memanfaatkan sarana transportasi publik tsb ketika itu. Mungkin sebagian di antaranya pergi ke luar kota atau sejenak menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta di rumah atau di tempat-tempat rekreasi. Akhirnya sampailah kami di stasiun Gondangdia. Dari sana kami memutuskan untuk naik ojek menuju tempat tujuan. Masih saja ada tukang ojek yang menyapa ayah saya beberapa saat setelah ojek kami mulai meninggalkan stasiun=b

Saya tiba di tempat pukul 8 pagi, dua jam lebih awal dari jadwal yang semestinya. Tapi saya pikir ini lebih baik, dibandingkan harus terburu-buru menjelang waktu yang ditentukan. Ketika saya datang, sudah ada tiga orang yang hadir lebih awal. Plus, sang profesor yang profile,foto & backgroundnya memang sudah saya telusuri sebelumnya. Dan alhamdulillah.. beliau menyapa saya dengan sangat ramah!

Saya duduk dan berkenalan dengan beberapa orang yang lebih dulu hadir di sana. Applicant Master of Public Policy memang didominasi oleh anak-anak muda.. rata-rata angkatan 2002-2005.. (meskipun ada satu orang yang berasal dari angkatan 96). Selain saya (Unpad), dan adik kelas saya di smu IC yang secara tidak sengaja kembali bertemu di momen tsb (Berasal dari Sekolah Teknologi Petronas di Malaysia, saya lupa nama inggrisnya=b), seluruh aplikan berasal dari UI! FH, FISIP, ANTROPOLOGI, dsb. Yang lebih menarik adalah background yang mereka miliki. Ada yang sedang bekerja di lawfirm, ada yang bekerja sebagai praktisi di WHO, seorang peneliti sosial, ada yang sudah bekerja di perusahaan multinasional, bahkan ada seorang penyiar TV One yang biasa tampil di layar kaca berita malam. Sementara saya siapa ya?=b jawaban pamungkas saya kalo ditanya mengenai kesibukan saya: "freelancer". udah. haha... "Luar biasa anak-anak muda ini", pikir saya.

Semua orang menanti giliran untuk dipanggil ke dalam sebuah private room untuk melakukan interview empat mata dengan Mr. Fritzen selama lebih kurang 20 menit. Waktu untuk menunggu, saya habiskan untuk berbincang-bincang dengan peserta yang lain. Terutama mengenai aktivitas mereka sehari-hari. Salah satu yang paling menarik adalah apa yang diceritakan oleh sang penyiar TV One yang kebetulan duduk di sebelah saya. Ia mengaku sudah beberapa hari ini kurang tidur. Ia mengatakan bahwa resiko menjadi seorang reporter adalah harus siap untuk dihubungi kapan pun 24/7. Tapi ia mengaku, bahwa keuntungan yang ia rasakan adalah "networking". Misalnya dalam hal meminta surat rekomendasi untuk keperluan S2. Cukup mendatangi salah seorang tokoh dan bilang, "Bang, bantuin dong.. buatin surat rekomendasi". Ungkapnya sambil tertawa kecil.

Lebih lanjut ia menceritakan sedikit cerita "behind the scene" yang berkaitan dengan siaran langsung berita malam yang ia lakukan setiap senin malam sampai jumat malam, kecuali rabu malam. Ia menceritakan bahwa penampilannya harus benar-benar perfect. "Kalau seandainya pemirsa di rumah tahu apa yang ada di bawah jangkauan kamera..", lanjutnya. "Di bawah itu banyak kabel yang berseliweran di bawah dan sewaktu-waktu bisa membuat kita tersandung.. Di bawah kursi kita itu ada bantal.. supaya kita terlihat lebih proporsional di depan kamera! haha..". Saya sempat menanyakan mengenai "owner intervention" terhadap berita yang disampaikan. Dia bercerita bahwa para kru biasanya mewarning bila ada berita yang berkaitan dengan owner.. "awas hati-hati jangan sampai salah ucap! berita dewa.. berita dewa!", guyon mereka. Kalau berita tokoh yang lain mungkin masih bisa ditoleransi kalau ada sedikit kesalahan. Tapi kalau berita yang menyangkut owner, ga boleh ada kesalahan sedikit pun. Kalau ada kesalahan biasanya owner langsung negur pimpinan siaran melalui telpon. "Menarik juga ya dinamika para jurnalis ini.. haha",pikir saya ketika itu.

Akhirnya giliran saya pun tiba. Sebelumnya saya diberikan sebuah lembar study-case yang berisi sebuah persoalan yang harus dipecahkan. Pendapat yang saya kemukakan di dalam interview akan menjadi salah satu bagian dari penilaian.

Pintu pun terbuka dan beliau mempersilahkan saya untuk masuk. Beruntung karena saya berada di urutan tengah, sehingga saya bisa lebih mengatasi kondisi. Terutama karena saya sudah berada di dalam posisi "nothing to lose" terhadap aplikasi ini, saya benar-benar tidak merasa gugup untuk mengikuti proses wawancara. Alhamdulillah, situasi pun semakin kondusif karena sang profesor bukan seorang yang kaku.. beliau adalah seorang yang sangat bersahabat. Bahkan ia menyediakan segelas air putih untuk saya. Nice=D

Saya membuka percakapan dengan mengatakan, "it's an honor to meet you sir.. I've read few of your publication!". Beliau tampak excited dan menanyakan publikasinya yang mana yang sudah saya baca. Saya bilang, "I read your publication about "Transforming Asian Governance" and about "Government's Political Will toward Anti-Corruption Movement in Vietnam". Dia menanyakan bagian mana yang menarik bagi saya; apakah ada hal yang saya setujui atau tidak setujui. Saya melanjutkan, "I am interested with your statement about 'the orthodox paradox' in vietnam's anti-corruption movement.. the government is police themselves. I think, we have the same situation comparing with Indonesia situation." ('orthodox paradox' adalah ungkapan yang beliau berikan terhadap pemerintah Vietnam yang setengah hati dalam melakukan gerakan pemberantasan korupsi dengan membuat 'KPK ' atau pengawas pemerintah berada di bawah kekuasaan mereka; tidak independen). Beliau menyatakan senang karena saya sudah meluangkan waktu untuk membaca publikasinya karena jarang orang yang mau menyempatkan waktu untuk membaca publikasi yang ia miliki. Dia juga mengatakan, "this is the best first impression I ever had today!", sambil tersenyum. (Untuk hal ini, saya harus berterima kasih kepada Rizal, Panji dan Windu atas kesediaan mereka untuk melakukan roleplay interview dan memberikan banyak feedback bagi saya=D).

Perbincangan pun terus mengalir. Mulai dari alasan saya memilih S1 di psikologi, apa rencana karir saya ke depan, kontribusi nyata yang telah saya lakukan, aktivitas saya setelah lulus dari fapsi, motivasi yang saya miliki, backup plan kalau seandainya tidak lulus NUS, dsb. Alhamdulillah, dari pandangan saya secara pribadi wawancara berjalan dengan lancar. Bahkan lebih lancar dari roleplay! Alhamdulillah.. mungkin ini karena berkat doa dari kawan-kawan semua. Nuhun ya=D Special thanks untuk Windu atas saran sederhananya untuk lebih mengalir dalam interview: "Dengan menghilangkan kesan bahwa kita sedang dinilai!". Trust me, it works!=D

Sembari menunggu jadwal tes tertulis, saya menyempatkan diri untuk pergi ke masjid sesaat. Shalat mutlak sebentar untuk menenangkan hati. Untuk tes selanjutnya, jujur persiapan saya tidak terlalu memadai. Khususnya dalam hal matematika dan writing. Saya berdoa mudah-mudahan Allah lancarkan.

Saya masuk ke dalam ruangan tes pukul 12.10. Saya memiliki waktu untuk menyelesaikan set soal pertama (reading & writing+essay) selama 1 jam 20 menit. Diberikan sebuah artikel mengenai "peristiwa bom di Mumbai, India dan dampaknya terhadap situasi sosial, politik & ekonomi di India". Artikelnya cukup panjang; menghabiskan sekitar 4 halaman. Cool ya?=D Pertanyaannya juga lumayan banyak.. ada 14 pertanyaan yang harus dijawab! Terakhir ditutup dengan Essay bebas tentang strategi pengentasan kemiskinan yang efektif di India.

Alhamdulillah sebagian besar pertanyaan (insya Allah) bisa saya jawab dengan baik, meskipun ada beberapa pertanyaan yang masih saya terka jawabannya. Tapi sayangnya, karena mungkin saya kurang baik dalam memanfaatkan waktu yang tersedia, saya baru bisa memulai menulis essay di detik-detik akhir dari sesi tersebut! Alhasil, saya baru menuliskan dua paragraf dan waktunya sudah habis. Padahal diminta sekitar 500 kata=b It's been a really hard situation to consider. But, I did my best, insya Allah!

Setelah tes set pertama tersebut selesai, dilanjutkan dengan tes matematika dasar. Soalnya hanya 5, disediakan waktu selama 20 menit. Tidak boleh menggunakan kalkulator. Awalnya saya agak lupa-lupa ingat untuk menyelesaikan persoalan yang diberikan. Bahkan ada pertanyaan yang keliru saya pahami pada awalnya. Tapi, syukur alhamdulillah Allah masih memberikan saya kesempatan untuk menyadari dan memperbaikinya kembali. Soal yang diberikan mengenai pertidaksamaan, mengenai mean (rata-rata), dan sedikit logika. Alhamdulillah, setelah diperiksa oleh sang profesor, jawaban saya alhamdulillah mendapatkan skor maksimal 5 (betul semua). "Well done!", kata beliau. Alhamdulillah, otak saya masih bisa dipake buat ngitung=b

That's all for today guys.. Hari ini merupakan bagian dari upaya saya untuk mengejar mimpi.. LKY NUS merupakan sebuah institusi yang dikenal baik di dunia internasional. Bahkan terakhir secara peringkat, NUS setara dengan Tokyo University.

Ya.. tidak ada salahnya bukan?Hari ini saya sedikit bermimpi..
May Allah give the very best. Amin. Mohon doanya kembali kawan=D

Berikut saya share beberapa foto yang menggambarkan suasana kampus LKY NUS yang saya dapatkan (picture taken from pheakdey2u.files.wordpress.com). Benar-benar layak untuk diperjuangkan! Beda dikit sama kampus fapsi unpad!=b :



Saturday, February 07, 2009

Tamu dari HAMAS silaturahim ke Jatinangor


Bismillah..

Sebenarnya berita ini agak mendadak saya terima.. baru kemarin siang saya menerima kabar bahwa seorang anak muda palestina kelahiran 1986 akan berkunjung ke bumi jatinangor dan berbincang dengan para anak-anak muda a.k.a mahasiswa unpad dan sekitarnya.

Alhamdulillah tadi siang beliau menyempatkan untuk bersilaturahim ke jatinangor selama lebih kurang 1 jam setengah. Beliau adalah Kang Muhammad, putra dari Abu Marzuq (Wakil Ketua Biro Politik HAMAS). Sayangnya, saya baru dapat hadir pada 30 menit terakhir. Sesi silaturahim ini berlangsung sederhana di sebuah masjid di bilangan Jatinangor dan dihadiri oleh lebih kurang 100an mahasiswa. Sebenarnya saya berpikir mungkin akan lebih baik bila bisa mengikutsertakan lebih banyak lagi masyarakat secara umum dalam silaturahim ini. Karena ada beberapa pertimbangan, pihak panitia memutuskan untuk tidak menyebarkan acara ini secara luas. Hanya dari mulut ke mulut. Insya Allah saya percaya ada alasan yang sangat penting dibalik kebijakan tsb. Saya perhatikan sebagian besar yang hadir adalah para mahasiswa, sebagian kecil di antaranya ada masyarakat dan orang "tua".

Kedua orang tua saya alhamdulillah berkesempatan untuk hadir dan duduk mendengarkan tuturan dalam bahasa arab fusha' yang panjang dan penuh semangat.. meskipun tidak terlalu banyak mengerti, namun pada waktu-waktu tertentu para hadirin menggemakan takbir secara serentak.. memang ada translator, tapi mungkin keterikatan hati inilah yang membuat kami "seolah" mengerti perkataan beliau.

Meskipun tidak terlalu lama memperhatikan dialog tsb, namun ada beberapa hal yang saya dapatkan dari dialog ini.. Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat.

Yang pertama, walaupun lebih muda satu tahun dari saya, namun Muhammad (begitulah ia disebut) tampak memiliki usia psikologis yang lebih tinggi dibandingkan usia kronologisnya. Mungin tidak seperti kebanyakan anak muda di Indonesia yang mungkin menghabisan hampir seluruh waktunya dengan keduniawian, beliau memiliki
jiddiyah (kesungguhan), wawasan yang sangat luas dan pemahaman yang dalam aplikasi medan perjuangan yang sesungguhnya: di dalam peperangan fisik yang penuh tekanan dan ancaman.

Kedua: Boleh jadi, saya pikir ini memang hanya masalah perbedaan tempat dan waktu. Bentuk perjuangan di palestina, mungkin berbeda dengan bentuk perjuangan di Indonesia yang konon katanya merupakan "surga para aktivis". Di negeri kita berbagai macam pergerakan tumbuh subur. Euforia pasca reformasi memberikan kita kelapangan untuk berkumpul dan berdiskusi bersama di sebuah tempat tanpa khawatir akan ditangkapi atau digrebek. Sedangkan di negara-negara timur tengah, berkumpulnya beberapa orang di dalam sebuah tempat bisa sangat berbahaya.

Ketiga, ketika salah seorang hadirin bertanya mengenai apa rahasia kesuksesan HAMAS dalam pesta demokrasi, dalam memenangkan kepercayaan rakyat palestina (khususnya gaza), dan yang paling anyar kemenangan di dalam peperangan melawan Israel; beliau menyampaikan sebuah hal sederhana yang sangat signifikan di balik kesuksesan yang mereka peroleh. Apakah itu? Beliau mengatakan bahwa kesuksesan yang HAMAS dapatkan tidak akan dapat dicapai tanpa kontribusi para ummahat (para ibu)! para ibu yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan mentalitas seorang pemenang! "tidak akan mungkin kami bisa memenangkan peperangan ini tanpa bantuan dari para ibu", kata beliau.

Beliau juga sempat menyampaikan bahwa zionis israel (la'natullah alaihim) telah melancarkan berbagai strategi untuk menggugurkan kepercayaan (rasa
trust) rakyat palestina terhadap HAMAS. Namun, ternyata semakin digencet semakin kuatlah rasa kecintaan rakyat palestina terhadap HAMAS.

Strategi Pertama, dengan membuat pesta demokrasi. Zionis merencanakan agar HAMAS kalah telak. Namun, di luar skenario zionis, Allah justru memberikan kemenangan mutlak kepada HAMAS (menandakan kepercayaan rakyat palestina yang besar kepada mereka; HAMAS).

Gagal dengan yang pertama, kemudian mereka melancarkan strategi kedua: menutup semua gerbang masuk untuk mengisolasi palestina. Bila hal ini terus dilakukan, zionis berharap rakyat palestina akan mendeskriditkan (baca: menyalahkan) pemerintah mereka: Hamas. Namun, subhanallah.. yang terjadi justru sebaliknya. Justru bertambah kuatlah kecintaan rakyat palestina kepada mereka. Gagal dengan upaya ini, selanjutnya mereka melancarkan strategi ketiga: serangan militer secara brutal. Dengan sebuah harapan agar bom-bom dan peluru-peluru yang zionis arahan ke bumi palestina membuat rakyat palestina putus asa. Sehingga rakyat akan berpikir bahwa kondisi tsb terjadi karena kesalahan HAMAS. Namun, kembali Allah tunjukkan kebesaran-Nya: justru rakyat palestina semakin percaya bahwa HAMAS memang laya untuk diandalkan. Memang benar janji Allah dalam QS Ar-Rahman: ".. Tak ada balasan bagi kebaikan, melainkan kebaikan jua".

Beliau juga sempat memberikan paparan mengenai konflik yang terjadi antara HAMAS dan FATAH. Dengan bijak beliau mengemukakan bahwa sesungguhnya di dalam tubuh FATAH terdapat orang-orang yang memang memiliki ketulusan untuk berjuang demi kejayaan palestina. " Tidak semua anggota FATAH seperti Mahmud Abbas", kata beliau. Nampak jelas bahwa taktik
devide et impera juga turut dilakukan oleh zionis Israel dan kroco-kroconya.

Demikian beberapa hal yang bisa saya bagi.. Seperti biasa sesi silaturahim ini ditutup dengan foto-foto bersama..=b khas indonesia!

Ana uhibbukum fillah akhii..
Kami akan selalu senantiasa mendukungmu wahai saudara ku!
Terus bergerak wahai pemuda!

wallahua'lam bishshawab

Quote of The Day :

"Mantapkanlah diri untuk mengakui kealfaan diri saat kritikan tajam datang menyapa.. terasa berat,namun sesungguhnya meringankan!"

Label Cloud


 

Design by Blogger Buster | Distributed by Blogging Tips