Wednesday, August 08, 2012

Lailatul Qadar: Seribu Malam, Secangkir Kopi atau Sekarung Durian


Saya tertegun menyimak pernyataan salah seorang penceramah tarawih di masjid kampus Unsyiah tadi malam, “Di bulan ini, saya sudah dapat tiga kali Lailatul Qadar”. Lailatul Qadar lumrah menjadi tajuk utama di hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Tak terkecuali tahun ini. (Sebagian) umat muslim di Banda Aceh tampak bersiap-siap untuk meramaikan masjid dengan beritikaf bersama dengan para pemburu ‘lailatul qadar’, sementara sebagian lainnya secara konsisten sejak awal bulan bergabung dalam ‘jamaah kupi’ meramaikan sejumlah kedai kopi yang terdapat di berbagai pelosok kota.   
Kembali ke cerita Lailatul Qadar tadi, sang penceramah melanjutkan bahwa salah satu berkah ‘Lailatul Qadar’ yang beliau dapatkan berupa “kiriman buah durian dari keluarga di kampung”. Saya semakin bingung, bagaimana mungkin malam ‘Lailatul Qadar’ yang konon lebih baik dari seribu bulan menjadi sama nilainya dengan sekarung durian dari kampung. Ternyata beliau berpendapat bahwa malam ‘Lailatul Qadar’ yang diperoleh oleh setiap individu dapat berbeda-beda tergantung amal ibadahnya. Para ‘jamaah warung kupi’, misalnya, mustahil memperoleh sebuah lailatul qadar yang nilainya lebih dari secangkir kopi dan obrolan lepas malam , kecuali mulai bergegas menghentikan aktivitas malamnya di warung kopi, menahan diri untuk berhenti menonton pertandingan bola olimpiade, dan mulai menyengaja pergi ke masjid-masjid tempat itikaf digelar. Semakin rendah kualitas amalan kita, maka semakin rendah pula nilai lailatul qadar yang mungkin kita peroleh di bulan ini. Waktunya introspeksi diri, seberapa baik kualitas amalan kita di bulan Ramadhan tahun ini. Sudahkah kita menemukan kenikmatan, melarutkan diri dalam berbagai aktivitas ibadah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada sang Ilahi Rabbi. Bila dirasa belum, masih ada waktu lebih kurang sepuluh hari untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan berbagai amunisi yang diperlukan, bergabung dalam tim pemburu seribu bulan.
Sejauh-jauh kita merantau, tentu  tiada yang lebih nikmat daripada ber-ramadhan di kampung halaman sendiri. Namun demikian, para perantau tentunya insya Allah memperoleh ganjaran yang lebih atas jerih payahnya mengelola diri untuk konsisten dalam amal kebaikan, menahan rindu sejenak dari sanak famili tercinta. Semoga berkah segenap langkah kita, di mana pun kita berada. Amiin..
Tidak ada pilihan bagi kaum muslimin di Indonesia, lailatul qadar yang dipercayai oleh banyak orang memiliki probabilitas yang besar terjadi pada malam-malam ganjil, selain harus bersiap-sedia menggarap kesepuluh hari yang tersisa. Karena malam genap versi pemerintah (NU), menjadi malam ganjil versi Muhammadiyah., dan sebaliknya malam genap versi Muhammadiyah, menjadi malam ganjil versi pemerintah (NU). Jadi, bersuka citalah meramaikan sepuluh malam terakhir guna memantaskan diri tuk memperoleh sebuah malam yang betul-betul bernilai malam seribu bulan. 
Semoga dapat menjadi pengingat khususnya bagi saya pribadi, maupun sahabat sekalian para muslimin muslimat yang tengah berbenah diri, memperbaiki kualitas diri. Wallahualam bish shawab.

Salam hangat dari Banda Aceh,
22 Ramadhan 1433 H


Picture is taken from paktam9788.blogspot.com
       

Tuesday, March 13, 2012

Die Bibliothek der Uni Erfurt


Perpustakaan kampus atau yang akrab disebut dengan Bibliothek dalam bahasa Jerman, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseharian hidup para mahasiswa yang tengah menempuh studi di Jerman. Sebuah gedung Bibliothek yang megah dan nyaman boleh jadi merupakan salah satu indikator utama untuk menilai kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh sebuah perguruan tinggi di Jerman. Namun, perlu diketahui bahwa di negeri Jerman, fasilitas pendidikan yang memadai tidak berbanding lurus dengan tingginya biaya kuliah yang harus dibayarkan menjelang awal semester baru. Sudah menjadi rahasia umum bahwa biaya kuliah di berbagai perguruan tinggi di Jerman sangat terjangkau, bahkan beberapa Negara bagian meniadakan uang kuliah termasuk bagi para mahasiswa asing.

Bibliothek merupakan tempat yang mampu memfasilitasi ketercapaian keempat pilar yang disebut sebagai pilar utama ‘pendidikan seumur hidup’ abad ke-21 dalam Laporan Komisi Internasional mengenai Pendidikan UNESCO (Delors, 1996): Learning to know (upaya konsisten harian untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan), Learning to do (mempraktekkan apa yang telah dipelajari), Learning to live together (kesempatan yang setara bagi setiap orang untuk berkembang),dan Learning to be (kemampuan untuk mengoptimalkan potensi diri). Di bawah atap Bibliothek ini, kami para mahasiswa Indonesia asal Aceh, berinteraksi dengan mahasiswa internasional dari berbagai bangsa. Mulai dari kegiatan berdiskusi kelompok membahas tugas kuliah, berlatih presentasi, berburu referensi untuk menulis berbagai paper, maupun sekedar bercengkerama bersama kawan membahas dinamika hidup sembari meneguk secangkir kopi.

Jam buka di Bibliothek kampus saya cukup panjang: Senin – Jumat (jam9 pagi hingga 10 malam), sedangkan Sabtu – Minggu (jam10 pagi hingga 4 sore). Di beberapa kampus bahkan dibuka penuh sepanjang hari, 24 jam dalam seminggu. Di kampus-kampus tersebut, sebagian mahasiswanya bahkan membawa serta bantal sebagai persiapan menginap. Jangan kaget, bila anda berkunjung ke sebuah bibliothek jam dua pagi, masih ramai orang tengah serius membaca. Suasana yang tenang dan kondusif, hamparan buku yang lengkap dan fasilitas koneksi internet nirkabel yang tersedia cuma-cuma, membuat saya sangat menikmati untuk menghabiskan waktu di Bibliothek kampus yang terletak tak lebih dari selemparan batu dari asrama mahasiswa tempat saya tinggal. Terutama saat ini, di tengah deraan deadline master thesis yang harus segera saya serahkan dalam beberapa bulan ke depan.

Sebagai seorang mahasiswa yang tengah menulis thesis, bahkan saya berhak memperoleh “perlakuan istimewa“. Pihak Bibliothek menyediakan sejumlah bilik pribadi khusus bagi para mahasiswa akhir tahun ajaran agar dapat fokus menulis. Kunci bilik-bilik tersebut dipinjamkan selama lebih kurang dua bulan bagi tiap individu yang telah mendaftar secara gratis, dengan mengisi formulir dan menyerahkan uang 10 Euro (sebagai jaminan) yang akan diberikan kembali setelah kunci dipulangkan. Di akhir hari, biasanya saya memborong sejumlah buku untuk dibawa pulang ke kamar. Membawa pulang buku ke dalam kamar, boleh jadi merupakan salah satu strategi umum yang diterapkan oleh para mahasiswa untuk menghadirkan ketenangan, terutama bagi mereka yang hobi memulai mengerjakan tugas sekian hari atau sekian jam menjelang tenggat waktu pengumpulan tugas. Namun, terlepas dari itu buku merupakan salah satu teman terbaik di sepanjang perjalanan studi kami.

Setiap mahasiswa di kampus saya, boleh meminjam puluhan judul buku dalam satu waktu (bila diperlukan), selama lebih kurang 28 hari, yang dapat kembali diperpanjang secara online melalui situs resmi Bibliothek sebanyak dua kali. Namun, yang perlu dipahami adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pinjam-meminjam harus dilakukan secara mandiri dan penuh tanggung jawab. Untuk meminjam sebuah buku, para mahasiswa harus terlebih dahulu memindai kode buku pada mesin yang tersedia. Di gerbang keluar, ruang utama Bibliothek terdapat detektor yang akan berbunyi bila pengunjung membawa keluar buku yang belum dipindai. Bila ada kerusakan pada buku, sebaiknya mahasiswa berinisiatif melaporkan hal tersebut untuk dicatat terlebih dahulu oleh petugas perpustakaan guna mencegah pemberian denda di kemudian hari. Mengenai prosedur pengembalian pun demikian, setiap pribadi mahasiswa harus bertanggungjawab untuk mengembalikan tepat waktu. Mekanisme peringatan melalui pos konvensional akan diberikan, bila periode peminjaman mahasiswa tsb telah habis, sementara buku belum dikembalikan. Tentu disertai dengan denda yang cukup lumayan.

Banyak sekali pelajaran hidup yang saya peroleh di perpustakaan. Salah satunya adalah melalui kehadiran seorang pegawai perpustakaan yang tidak memiliki lengan. Beliau, seorang ibu paruh baya, bertugas di unit pelayanan dan informasi bagi pengguna perpustakaan. Dengan penuh dedikasi, terlepas dari keterbatasan anggota tubuh, beliau memfungsikan kedua kakinya yang terlatih untuk mengambil berkas, mengetik keyboard komputer, maupun menelusuri berbagai data kepustakaan yang dibutuhkan para pengguna. Para pengguna pun tidak merasa terganggu bila suatu saat beliau menunjukkan arah dengan ujung jempol kakinya. Bahkan merasa sangat tersanjung dengan keramahan beliau. Di sekian puluh ribu kilometer dari rumah, saya kembali belajar untuk menghormati dan menghargai sesama. Keterbatasan yang kita miliki selayaknya tidak membuat kita lengah untuk senantiasa menghargai kemurahan sang Pencipta. Salam pembelajar!

Reza Fathurrahman, Mahasiswa Master Kebijakan Publik, Willy Brandt School of Public Policy, Universitas Erfurt

(DAAD Fellowship of Aceh for Excellence)

http://www.linkedin.com/pub/reza-fathurrahman/13/418/836)

picture is taken from: http://www.wiesel-erfurt.de/fotoalben/foto_detail/article/universitaet-erfurt/

Wednesday, January 18, 2012

A Train Boy Story

Die beste Bildung findet ein gescheiter Mensch auf Reisen - Goethe


Di depan Stasiun kota Pisa


'Train Boy' adalah nama belakang baru saya kini, setelah sebelumnya 'Conference Boy' terlebih dahulu dilekatkan oleh salah seorang tetangga saya yang gemar melihat saya berceloteh sendirian di dalam kamar, 'melompat' dari satu conference ke conference lainnya:D Kereta adalah salah satu bagian penting dari hidup saya sebagai seorang pelajar di Jerman. Di atas kuda besi inilah saya melewatkan sebagian hidup saya. Bahkan tidak jarang saya membawa serta sejumlah buku dan laptop tua saya tuk memenuhi berbagai tenggat deadline, mencari inspirasi tuk menulis, membaca referensi presentasi dan bahkan mempersiapkan materi ujian. Saya sepakat dengan apa yang Goethe sampaikan sekian dekade yang lalu, (meskipun saya jauh dari ungkapan 'gescheiter Mensch'), bahwa perjalanan adalah salah seorang guru terbaik saya! Darinya saya belajar begitu banyak hal:D

Langit Dunia

Saat kecil dulu saya percaya bahwa langit yang memayungi setiap negara berbeda-beda (antara satu dengan lainnya) :D Kesimpulan ini saya peroleh dari pengamatan mata kecil saya dalam kunjungan pertama saya ke negeri tetangga, Singapura, sekira tujuh belas tahun yang lalu. What's an old story to share ya?:D haha.. Saya masih ingat betul kala itu saya mengajukan sejumlah pertanyaan pada diri saya sendiri, "Mengapa langit Singapura tampak lebih dekat dengan gumpalan awan-awan yang lebih besar dibandingkan dengan langit Indonesia? Mengapa senja datang lebih lambat di langit Singapura?". Dari sanalah saya menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa langit bumi ini pasti berbeda-beda! Dan lucunya, kesimpulan lugu itu masih senantiasa saya simpan dalam memori dan hati, hingga kini!:D

Enam belas tahun berikutnya barulah saya betul-betul sadar bahwa kita sesungguhnya hidup di bawah langit yang sama, meskipun sedikit berbeda! :D Di tahun pertama ketibaan saya di negerinya Merkel, tepatnya menjelang peralihan ke musim dingin, rasa penasaran saya pun kembali hadir. Saya betul-betul penasaran! Mengapa? Karena saya dengar dari orang-orang di sekitar saya bahwa "waktu akan mundur satu jam!" Loh, kok bisa? Lalu bagaimana caranya memastikan bahwa jam yang dimiliki oleh semua orang dapat serempak berganti? Apakah akan menjadi masalah bila saya memiliki sebuah janji keesokan hari di pukul 10 pagi (yang saya buat sebelum waktu dimajukan) dan datang esok pada pukul 10 pagi (yang sebenarnya pukul 11 di waktu sebelumnya)?? Belakangan saya ketahui bahwa inilah sebuah fenomena dwi tahunan yang secara rutin dilakukan dan biasa dikenal dengan istilah 'Daylight Time Saving" :D

Motto Bersama

Menjajal topeng di Venice

Di kalangan kami para pelajar asal Aceh yang tengah menempuh studi Master maupun Doktor di berbagai kampus di seluruh penjuru Jerman, ada sebuah motto yang dikenal luas dan disepakati oleh kami semua. Motto tsb kurang lebih berbunyi, "We are part-time student, full-time tourist!" :D Eropa memang 'surganya' para traveller, utamanya bagi para pelajar Indonesia di Jerman. Dengan visa yang kami miliki, kami bisa menembus tapal batas negara-negara tetangga dengan leluasa. Kecuali UK, seluruh negara sekitar semisal Perancis, Belanda, Belgia, Swiss, Austria, Spanyol, Italia, dsb dapat dicapai dengan berbagai penerbangan super murah seharga tiket kereta antar kota! Salah satu maskapai penerbangan kami para 'backpacker mania' bahkan menawarkan rute ke beberapa destinasi wisata terkemuka dunia seharga 30 EUR pp! Tidak ada nomor bangku seperti di 'penerbangan normal' lainnya:D Prinsipnya adalah 'siapa cepat, dia dapat!'. Meskipun tentu tidak ada seorang pun yang berdiri alias tidak kebagian tempat duduk di dalam pesawat.

Kalau bicara mengenai 'Reise Plan' (Rute Perjalanan), wah jangan ditanya! Sejumlah kolega Jerman mesti akan geleng-geleng kepala melihatnya. Bayangkan saja, dulu ketika baru tiba di Jerman, kami tinggal di sebuah kota kecil yang indah bernama Marburg, sekira 1 jam perjalanan ke arah utara kota Frankfurt am Main. Saat akhir pekan, dalam temaram fajar sembari menahan dinginnya kabut pagi, kami rela berlelah-lelah berjamaah menuju 'Bahnhof' (stasiun kereta) dengan berjalan kaki selama lebih kurang 30 menit demi mengejar 'kereta pertama'. Mengapa harus 'kereta pertama'? Karena kami berharap dapat singgah di tiga atau empat kota dalam satu hari penuh dan kembali ke rumah dengan kereta terakhir:D Kini, meskipun kami tidaklah 'segila' itu lagi, namun pada prinsipnya Reise Plan kami masih mengacu pada satu prinsip yang sama: "Sebanyak-banyaknya kota dalam tempo yang sesingkat-singkatnya!" :D Mengapa harus singkat? Karena setiap tambahan satu hari berarti tambahan pengeluaran bagi saku kami yang tipis. Bila perjalanannya tergolong jauh dan panjang, bila memungkinkan kami pun akan mengambil kereta tengah malam, berharap melepas lelah di atas kereta, dan tiba di kota tujuan berikutnya di pagi hari buta. Namun, rencana ini tidak selalu berjalan ideal :D

Dalam perjalanan terakhir kami dari Venice menuju Roma, selama enam jam perjalanan kereta, kami betul-betul tidak bisa beristirahat karena (di luar dugaan) kereta ternyata penuh sesak! Satu-satunya tempat yang tersisa hanyalah sebuah lorong panjang selebar satu badan orang dewasa, jalur penghubung tempat orang lalu-lalang. Setiap kali hampir terlelap, selalu ada saja orang yang membangunkan kami karena langkahnya terhalang oleh tubuh-tubuh kami:D

Travelling dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain tentu menghadirkan sensasi yang berbeda-beda. Setiap kota menawarkan atmosfirnya masing-masing dan menyisakan kesan yang berbeda dalam catatan perjalanan hidup kami nanti:D Salah satu hal yang sangat saya nikmati adalah di sepanjang perjalanan kami mendengar beragam bahasa, menjumpai beragam peristiwa. Terlepas dari apapun perbedaan yang melekat di antara kami para 'backpacker', menghormati dan menghargai sesama adalah sebuah harga mati. Keramahan yang kita dapati di tempat asing dari seorang yang asing merupakan sebuah fenomena yang sangat menenangkan. Meskipun perjalanan tidak melulu diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan, namun ia selalu menyisakan sebuah cerita menarik untuk dikenang:D

Menghormati Budaya, Menjunjung Prinsip


Menunaikan Shalat Fardhu

Mungkin kita masih ingat sebuah pribahasa klasik yang kurang lebih berbunyi, "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Sebuah pesan moral yang disampaikan dalam pribahasa tsb sangatlah penting untuk disimak. Di setiap tempat ada sebuah norma yang harus kita hormati dan pahami. Namun, di sisi lain kita pun tentunya memiliki prinsip-prinsip yang perlu dijaga, di mana pun kita berada. Sebagai Traveller muslim misalnya, kita harus senantiasa berupaya menjaga makanan yang kita pangan, menjaga kewajiban shalat kita, senantiasa saling mengingatkan dan menjaga. Terkadang mungkin kita lupa, secara tidak disadari, di sebuah tempat yang jauh dari rumah, kita menjadi seorang yang betul-betul berbeda. Karena jauh dari rumah, tidak ada keluarga yang biasa mengingatkan, lalu kemudian dengan dalih sudah cukup dewasa mengambil 'jalan suka-suka'. Dalam realita backpacker muslim, fenomena 'merasa malu', 'tidak enak' untuk menunaikan shalat di kamar hostel yang dipenuhi oleh sesama backpacker dari berbagai negara tak jarang muncul. Padahal pada prinsipnya, setiap kita menghormati sesama. Selama kita tidak mengganggu yang lain, maka tunaikanlah shalat. Bila ditanya, "kamu sedang apa?", maka jawab saja "saya sedang beribadah!:D" selesai. Dalam kasus lainnya, bila seandainya ada yang bertanya, "Kenapa kamu tidak ikut minum (bir)?". Jawab saja, "Saya tidak minum (alkohol)!:D". Selesai.

Dari kultur yang berkembang di masyarakat Jerman, saya belajar untuk lebih menghargai perbedaan dan berterus-terang. Saya dan kamu mungkin berbeda pandangan, namun kita tetap berteman:D Setiap diri tentu memiliki pengalaman subjektifnya masing-masing. Terlepas dari itu semua, menurut saya penting bagi kita untuk belajar melihat dari cakrawala dan sudut pandang yang lebih luas, tanpa kehilangan pijakan. Menyampaikan, tanpa perlu menyakiti. Enam bulan tersisa, mohon doa semoga Allah karuniakan selalu jenak waktu yang penuh manfaat. Karena hidup adalah perjalanan, maka mulailah dengan menetapkan tujuan, kemudian siapkan perbekalan dan atasi setiap dinamika persimpangan jalan:D

Erfurt, 18 Januari 2012

Reza

Waktu dan Kebahagiaan

Sahabat, perkenan saya untuk berbagi kegundahan tentang waktu dan kebahagiaan:D

Menurut sahabat, siapakah orang yang cenderung lebih berbahagia dengan waktunya: 'seorang yang memiliki begitu banyak waktu (luang)' atau justru sebaliknya 'seorang yang memiliki beragam aktivitas dan hanya memiliki sedikit waktu luang'?

Beberapa waktu lalu seorang kawan di kampus yang saya mintai tolong untuk mengirimkan sebuah file via email menyampaikan pada saya bahwa ia sangat sibuk. ia mengatakan, "saya akan mengirimkannya saat saya menemukannya, kawan!". "menemukan apa?", tanya saya kebingungan (karena filenya jelas-jelas sudah ada, hanya perlu diattach dlm sebuah email dan klik send! selesai.). ia pun menjawab, "menemukan waktu luang!". saya hanya tersenyum mendengarnya:D ia tampak begitu terbebani dengan beragam tugas kuliah yang menanti untuk diselesaikan, sampai-sampai seakan ia betul-betul kehilangan waktu luang.

Saya pun mencoba berkaca. kami berada dalam semester yang sama, dengan beban mata kuliah yang kurang lebih sama. semester ini, bahkan bisa dikatakan 'lebih ringan'; jumlah kredit yang kami ambil pada semester ini jauh lebih sedikit dibandingkan dua semester yang telah lalu. namun, mengapa ia merasa begitu terbebani?

Belakangan saya ketahui, bahwa ia tidak sendirian. sejumlah kawan yang saya tanyai merasakan hal yang sama: 'mereka merasa begitu terbebani dengan berbagai tugas yang mendera'. bila sudah begini, biasanya orang menjadi terlampau sensitif, mudah marah, dsb.alasannya ternyata sederhana: "karena semester ini memberikan lebih banyak waktu bagi 'self-time management' (baca: utk dikelola sendiri) dengan tugas-tugas mandiri dibandingkan dengan semester-semester sebelumnya dimana kami memiliki sejumlah kelas yang sudah ditentukan jadwalnya dan harus dihadiri secara periodik setiap minggunya".

Bagaimana dengan saya?saya pun sebenarnya sama saja, hanya secara teknis sedikit berbeda: saya merasa memiliki begitu banyak waktu luang,yang sayangnya belum terkelola dengan baik:b

Oleh karena itu berminggu-minggu lamanya saya berpikir keras bagaimana caranya untuk mengoptimalkan waktu yang tersedia scr lebih efektif. maka saya memutuskan untuk lebih banyak terlibat dalam berbagai kegiatan, hadir dalam beragam seminar di luar kampus, meminjam sejumlah buku di perpustakaan kampus, dsb.

namun, belakangan saya menyadari bahwa itu tidak cukup. saya masih lebih sering menghabiskan banyak waktu luang saya untuk berpikir 'mengapa saya tidak produktif' daripada 'melakukan sesuatu' agar betul-betul produktif. sejumlah buku yang saya pinjam tertumpuk rapi di sudut kamar (mungkin sekedar utk menghadirkan rasa 'aman':D haha..), sejumlah tugas kampus (dgn deadline yg masih cukup lama) menanti untuk dikerjakan, dan saya tidak bisa merespon dengan cepat sejumlah kesempatan menarik (untuk menumbuh kembangkan diri) yang datang karena 'my time-management is simply chaotic!!'' :b

Kini saya perlahan mulai mencoba untuk mengubah persepsi saya,berupaya untuk benar-benar melakukan sesuatu. setiap tugas kuliah yang saya peroleh kini saya labeli: 'happy tasks':D mencoba mengundang lebih banyak 'kebahagiaan' dalam keseharian saya yang luang.

belakangan bahkan di akhir pekan saya cukup sering melakukan perjalanan seorang diri dari satu tempat ke tempat lain guna bertemu dan berguru dengan kawan-kawan yang menurut saya luar biasa. perjalanannya sendiri seringkali lebih lama daripada waktu yang tersedia untuk duduk berbincang, mendengar, bertukar wawasan dan gagasan. namun, saya menemukan lebih banyak inspirasi ketika saya 'bergerak' daripada ketika saya 'diam'. Di atas kereta yang melaju, saya justru menemukan waktu untuk menghabiskan buku yang biasanya tidak pernah saya sentuh, mengerjakan tugas yang lama saya tunda utk dikerjakan. aneh ya?:D haha..

Nah,perihal "siapa yang lebih berbahagia: mereka yang begitu luang atau mereka yang begitu sibuk?"

Biarlah sahabat masing-masing yang menjawabnya:D namun, satu hal yang saya sadari bahwa mereka yang merasa berbahagia dengan apa yang mereka lakukan, secara alamiah tentu akan bersemangat utk melakukan lebih banyak hal dengan waktu yang ia miliki. apresiasinya terhadap waktu luang yang berkualitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari berbagai aktivitas dan kesibukannya. ah, andai saja saya bisa mjd sosok seperti itu suatu saat nanti:D

Adakah di antara sahabat sekalian yang (pernah) merasakan kegundahan yang sama akan waktunya?seperti apa strategi yang telah diterapkan untuk mengatur waktu secara lebih baik? mungkin ruang ini bisa menjadi sarana untuk berbagi. dan tentu saja saya akan sangat senang sekali untuk mendengarnya:D

Salam semangat,

Reza

picture has been taken from http://blog.iqmatrix.com/mind-map/time-management-mind-map

Stereotype

"Don't ever judge a book (merely) by its cover!" - anonym

Mungkin ini sebuah ungkapan yang pas untuk menggambarkan pengalaman yang saya peroleh kemarin malam ketika saya terlibat dan menghadiri sebuah acara yang digagas bersama dengan rekan-rekan muslim dari sejumlah negara untuk memperkenalkan makna dan pengalaman ber-Idul Adha di negara kami. rasanya? luar biasa menyenangkan:D

Setelah menyimak sejumlah slide mengenai Idul Adha yang disampaikan secara bergiliran oleh tiga orang kawan asal Afghanistan, China dan Kosovo, maka para hadirin hadirat pun dipersilakan untuk beralih ke ruangan lain di mana telah tersaji sejumlah makanan khas muslim di beberapa negara. selain sejumlah makanan khas asal timur tengah seperti nasi briyani & 'martabak' (saya tidak tahu namanya:b) Afghanistan, ayam khas Pakistan dan manisan khas Mesir, tidak ketinggalan pula 'rendang', buah karya salah seorang kawan asal indonesia:D

Di tengah hiruk pikuk inilah saya berjumpa dengan seorang berambut gimbal sedang menikmati segelas besar bir berwarna pekat dan asyik bersandar sendiri ke tembok kayu di sudut ruangan. interaksi kami bermula ketika ia memperhatikan ekspresi saya saat mencoba mencicipi minuman sejenis susu khas asia tengah. sekilas minuman tersebut terlihat seperti susu putih yang dicampur dengan butir-butir kecil oreo, sehingga asosiasi pertama saya adalah 'manis':D tegukan pertama betul-betul meluluh lantahkan stereotype bahwa susu putih = manis. rasanya kecut, seperti di campur yoghurt!:b spontan saya bertanya, 'apakah ini susu jerman?'. ia pun menggeleng, 'bukan!', jawabnya singkat. seorang kawan asal uzbekhistan yang kebetulan mendengar percakapan kami menjelaskan bahwa tidak ada campuran yoghurt di dalamnya. ah, meskipun terasa aneh, tapi saya menikmatinya.. menenggaknya sekali lagi sembari memejamkan mata menahan asamnya, dan menghabiskannya sekaligus pada tenggakan ketiga:D rasanya seperti minum obat!:b haha..

Dan obrolan kami pun berlanjut.. 'anda terlihat sangat menikmatinya', ujarnya sembari tersenyum. 'ya!', jawab saya singkat. 'apa kamu orang jerman?', tanya saya, mengingat cukup banyak bule yang hadir malam itu dari sejumlah negara (saya pun juga bule, hanya saja tidak pirang:b). ia pun menjawab, 'ya, saya berasal dari sebuah kota kecil di perbatasan thueringen dan sachsen-anhalt'. belakangan saya ketahui bahwa ia seorang mahasiswa S1 di bidang pendidikan dan bahasa inggris. saya yang selalu mengagumi para penggiat pendidikan sedikit kaget, 'pendidikan?' ia pun kembali menegaskan, 'ya! pendidikan untuk anak TK!':D wow! ia bercerita betapa menyenangkannya menjadi pengajar, terutama bagi anak-anak kecil. namun, dalam hati saya sempat terbersit, 'luar biasa sekali! seorang berambut gimbal seperti beliau, yang biasanya identik dengan gaya hidup yg terkesan 'free-style' ternyata jatuh cinta pada dunia anak-anak:D (punten, lagi-lagi stereotype:b).

pikiran saya sejenak melanglang buana ke tanah air. seperti apa kiranya bila ada seorang guru berambut gimbal sepertinya mengajar di sebuah TK nol kecil di indonesia?:D ah, tetapi hatinya tampak ramah.. wajahnya pun sumringah. anak-anak kecil pasti senang berada dan bermain dengannya. ia sempat berbagi kisah, bahwa seringkali para polisi jerman menghentikannya hanya karena seorang pengedar narkotika (mungkin) memiliki wajah yang 'mirip' dengannya. itulah sebab mengapa ia seringkali mengenakan tudung jaketnya, terutama di kala malam tiba. sekilas saya perhatikan kembali wajahnya.. ah,sama sekali tidak ada tanda-tanda pengguna narkoba. wajahnya terlihat segar, nada bicaranya pun mengalun jelas, dengan senyum yang sesekali mengembang (beginilah susahnya kalo pernah jd mhsw a.k.a mantan psikologi.. selalu saja nalurinya 'otomatis' menganalisa:b). haha..

Kami menemukan sebuah kesamaan dalam hal ini! saya pun terkadang merasa dirugikan dengan stereotype semacam ini. sebagai seorang asia yg hobi berkereta, polisi jerman paling hobi bertanya, 'selamat pagi! tolong perlihatkan paspor anda? anda mau kemana?' bla bla bla... dan ini pun berkali-kali terjadi. terkadang cukup mengesalkan, karena sangat diskriminatif: hanya saya seorang yg diperiksa! meskipun, alhamdulillah, selalu bisa melewatinya tanpa masalah:D

Hmm.. jadi seperti apa ya sebaiknya kita bersikap terhadap 'stereotype'?:D saya pun belum memiliki jawaban yang tepat. namun, satu hal yang menurut saya perlu kita sadari bahwa stereotype ini merupakan sesuatu yang kita peroleh dari pengalaman di sepanjang hidup kita; keluarga kita, lingkungan sekitar kita, dsb. sehingga adalah hal yang wajar bila kita terkadang ber-stereotype. bahkan suatu waktu bisa membantu kita untuk 'waspada' terhadap hal-hal yang tidak kita inginkan. hanya saja, yang perlu kita sadari adalah 'stereotype' tsb memiliki kemungkinan untuk mengalami 'kekeliruan',terutama bila kita kemudian melakukan 'over-generalisasi' terhadap stereotype yg buruk dan memberikan 'labelling' yang sama kepada semua orang dgn ciri-ciri tertentu yang kita anggap sama. oleh karena itu pada waktu-waktu tertentu memerlukan pembuktian utk menguji keabsahannya (bila diperlukan).

Jadi apa yang dilakukan oleh para polisi tsb terhadap saya atau terhadap kawan baru saya tsb ternyata adalah hal yang wajar! karena mereka perlu melakukan pembuktian. yang ga wajar itu kalau polisi-polisi tsb main tangkap, tanpa proses dialog di antara kami. bila terbukti saya tidak memiliki catatan yang salah, maka polisi tsb pun mengucapkan terima kasih dan berlalu (masalah 'nada pengucapannya' itu bagaimana, itu perkara 'selera':b hehe..). Jadi mekanisme idealnya, stereotype->uji -> bila salah, perlu diperbaiki.

Sekarang saya jadi tersadarkan bahwa sudut pandang saya terkadang mungkin terlalu saya-sentris a.k.a egois:D haha.. begitulah kita manusia. jadi nampaknya tepatlah kalau di awal tulisan tadi saya mulai dengan 'jangan menilai buku (hanya) dari covernya'. buku jangan hanya dinilai dari covernya. tapi perlu disadari juga, supaya tidak mengundang penilaian yang tidak-tidak, 'cover' kita pun tidak perlu yang 'neko-neko' (baca: macam-macam). terlebih karena tidak banyak orang yang memiliki waktu untuk membaca isinya dengan seksama:D haha..

Mohon pencerahannya!:D oya, selamat idul adha bagi rekan-rekan yang merayakannya!

the pic was taken responsibly from http://pandhuwiguna.wordpress.com/page/3/

How many days I have lived?

Quote of The Day :

"Mantapkanlah diri untuk mengakui kealfaan diri saat kritikan tajam datang menyapa.. terasa berat,namun sesungguhnya meringankan!"

Label Cloud


 

Design by Blogger Buster | Distributed by Blogging Tips