Thursday, March 26, 2009

Saatnya Mencari Negarawan yang Santun!

Bismillah..

Situasi politik yang kian memanas mendekati pemilu legislatif tanggal 9 April nampaknya memberikan sebuah kekhawatiran tersendiri bagi saya sebagai anak muda. Betapa tidak, perilaku yang ditampilkan di dalam layar kotak bergambar dari waktu ke waktu mencerminkan betapa bangsa ini mengalami krisis pemimpin negarawan yang santun!

Saya mungkin bukanlah seorang ahli politik, saya juga bukan seorang ahli perilaku... namun saya melihat bahwa perilaku yang ditampilkan oleh beberapa tokoh politik belakangan ini benar-benar jauh dari prinsip kesantunan dalam berpolitik. Lihatlah apa yang terjadi pada konflik elite antara partai oposisi (PDIP) dan partai yang kini berkuasa (Demokrat). Perselisihan pandangan mengenai BLT membuat elite kedua partai menampilkan perilaku yang kurang sedap di pandang di hadapan masyarakat luas yang terus mengamati layar kotak televisi. Begitu pula ketidakharmonisan yang kian jelas antara presiden SBY dan wapres JK (menjelang akhir periode kepemimpinannya) terkait dengan intensnya statement JK yang merasa dapat bekerja lebih baik dan lebih cepat daripada SBY, yang kemudian direspon dengan tersebarnya berita (beberapa waktu yang lalu) bahwa SBY meng-sms seluruh menteri (melalui sekretaris kabinet) terkait pernyataan wakilnya tsb. Apakah yang sebenarnya sedang terjadi?

Saling serang, saling merendahkan, nampaknya menjadi hal yang (dianggap) sangat wajar belakangan ini. Kemanakah perginya rasa saling menghargai dan saling menghormati antara para pemimpin bangsa ini? Bukankah para pemimpin itu ibarat bintang di langit yang akan menjadi penunjuk bagi masyarakatnya yang kehilangan arah? Namun, apa yang terjadi ketika kini bintang-bintang tsb perlahan semakin pudar cahayanya dan semakin kehilangan karismanya?Tentu rakyat bangsa ini semakin bersedih hati..

Wahai para pemimpin bangsa, kembalilah kepada ranah asalmu..! yaitu menjadi pemimpin yang santun, yang mencintai rakyatnya melebihi kecintaannya kepada jabatan, harta dan kekuasaan. Kami menanti pemimpin-pemimpin baru yang mampu memberikan keteladanan yang baik dalam bersikap, kesederhanaan dalam bertutur, dan kelurusan hati dalam mengemban amanah!

Bangsa ini butuh penyegaran! Mungkin telah menjadi rahasia bersama bahwa bangsa ini sedang krisis "Negarawan yang Santun".. Tapi saya yakin.. saya, anda, dan kita masih menyimpan sebuah harapan bahwa dari sekian ratus juta penduduk bangsa ini, masih ada para pemimpin yang mampu dan tulus dalam mengemban kebesaran bangsa ini.. yang perlahan membawa bangsa ini menuju titik puncak kejayaannya! Wahai negarawan santun di manakah engkau berada? Kami kini benar-benar menantikan kehadiranmu di tahun ini!

wallahua'lam

picture taken from: http://kebumendiary.info

Tuesday, March 24, 2009

Menyikapi Golput..

Fatwa golput MUI memang kurang bijak dari segi “pemilihan bahasa”. Seharusnya tidak berbunyi, “golput itu haram!”. Tetapi, mungkin bisa disederhanakn dengan bahasa yang lebih mudah dicerna. Misalnya, “Dalam pemilu ini, jangan memilih pemimpin yang zalim. Pilihlah pemimpin yang memahami Islam sebagai solusi dan rahmat bagi bangsa kita.”, dsb. Pesannya sampai, tetapi dengan cara yang lebih santun.

Konsep Golput muncul saat zaman tirani suharto sebagai bentuk ekspresi kekecewaan para aktivis yang bosan dengan “monotonisasi politik”, dimana setiap kali pemilu sudah dapat ditebak siapa pemenangnya: Golkar. Jadi sudah tidak lagi menarik.


Namun, menurut saya sikap GOLPUT kini sudah tidak lagi relevan. Dan saya memandang sikap tsb sebagai sikap yang tidak solutif dan tidak memiliki efek jangka panjang. Sekarang pertanyaan saya adlh “kalau seandainya, sebagian besar rakyat Indo GOLPUT, apa kemudian yang akn dilakukan selanjutnya?” (tentunya ketika kondisi tsb terjadi situasi politik di Indo pasti kacau balau, karena tidak adanya kepercayaan masyarkat kepada partai politik) Namun, selanjutnya apa? REVOLUSI untuk mengganti system politik? Konsepnya seperti apa? Dan kita harus menghitung berapa banyak kemunduran yang harus terjadi bila REVOLUSI terjadi karena prinsip revolusi (yang saya pahami) adalah “hancurkan dulu bangunannya kemudian bangun kembali!”. Namun, apa yang kiranya akan terjadi ketika kondisi Negara ini sedang ricuh?Siapa yang akan menjadi korban paling banyak? Adlah keniscayaan bahwa para ahli politik akan menngeluarkan berbagai jurusnya untuk berkuasa. Namun, tentunya (dalam situasi tsb) politik berlaku tanpa adanya peraturan/hukum. Bukan begitu?


Tentunya orang-orang yang dikenal sebagai pencetus golput (selayaknya) juga memiliki metode dan kepentingannya masing-masing. Atau bahkan, mungkin ada di antara para pencetus golput tidak memiliki konsep yang memadai sebagai tindak lanjut golput! Pokoknya yang penting golput. Inikan reaktif namanya. Sebaiknya para pelopor golput ini memaparkan seperti apa langkah selanjutnya setelah golput dilancarkan. Sehingga masyarakat bisa lebih tepat dalm menyikapi anjuran golput yang mereka galakkan.


Oleh karena itu, sampai sekarang saya menganggap bahwa golput itu bukanlah sebuah keputusan yang solutif. Saya memegang prinsip yang diajarkan kaidah Islam, sesuai pemahaman saya, bahwa “menghindari kerusakan adalah lebih utama daripada mengambil manfaat”. Ketika partisipasi dalam pemilu ini masih memiliki harapan akan kondisi bangsa yang lebih baik dan memiliki setidaknya (mungkin) sedikit manfaat, mengapa harus ditinggalkan?


Saya menghormati pilihan politik setiap individu. Namun, saya mengajak kawan2 (terutama aktivis) yang berkeyakinan golput untuk meredefinisi konsep yang mereka miliki tentang bagaimana golput akan berdampak kepada kebaikan Negara dan apa langkah selanjutnya yang akn dilakukan.


Saya meyakini bahwa untuk saat ini fenomena golput tidak dapat dikurangi hingga angka nol, namun saya berharap golput tetap menjadi minoritas selama belum memenuhi dua hal yang saya sebutkan di atas tadi. Wallahua’lam.


Friday, March 13, 2009

Lingkaran Orang-Orang Besar!

Dengan nama Allah yang meninggikan atau merendahkan derajat hambaNya..


Saya baru benar-benar tersadar bahwa saya sudah cukup jauh tertinggal. Orang-orang besar atau orang-orang yang berpotensi (menjadi) besar, ternyata memiliki lingkaran sosial yang besar. Jauh lebih besar dari orang kebanyakan. Cukup sederhana memang, dan seharusnya ini suatu hal yang terdengar sangat logis dalam konteks orang-orang besar. Tapi entah mengapa, saya baru benar-benar terhenyak ketika kawan-kawan di sekitar saya yang tampak "menjadi" memiliki sirkulasi lingkungan sosial yang lebih besar dari kebanyakan orang. Dan ini membuat mereka lebih banyak menemukan "peluang", dan jalur-jalur untuk menjadi besar! Lingkaran besar ini secara natural akan menyediakan berbagai informasi yang sangat mendukungnya untuk menjadi besar.

Saya sebenarnya memperhatikan secuil fenomena yang saya lihat pada diri salah seorang kawan saya. Saya perhatikan, misalnya setiap kali ada seminar nasional ataupun diskusi-diskusi nasional maka ia akan menjadi orang pertama yang hadir di sana. Dari sana ia membangun pola pikir berdasarkan stimulus-stimulus gagasan atau loncatan-loncatan ide, dan meraih lebih banyak air untuk ia tuangkan ke dalam gelas yang ia miliki. Ia membuka dan bermain wacana dengan "sparing partner" yang kompeten, jauh melebihi masanya. Namun, perlahan ia akan mendapatkan akselarasi peningkatan yang pesat. Ibarat besi yang tertarik kuat kepada medan magnetnya. Dan tidak menutup kemungkinan, bahwa dua-tiga-empat-lima tahun kemudian ia bukan lagi menjadi sekedar "besi", namun ia berkembang menjadi "medan magnet" baru yang (mungkin) lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

Sebagian orang memilih untuk menyalahkan lingkungan ketika ia merasa bahwa dirinya "tidak terfasilitasi" untuk berkembang. Ia meminta agar berbagai informasi yang penting untuk kemajuan dirinya diberikan kepadanya secara cuma-cuma, tanpa usaha ekstra. Inilah yang saya pikir membuat kebanyakan diri kita tidak mengalami kemajuan yang signifikan dari masa ke masa. "Bukankah berlian, sekalipun di dalam lumpur akan tetap menjadi berlian?", begitu lebih kurang yang disampaikan salah seorang guru saya beberapa tahun yang lalu. Namun, tentunya berlian yang cantik dan indah merupakan akumulasi dari tahapan-tahapan kerja keras, bukan?

Lingkaran yang kecil membuat kita "terlalu cepat" merasa besar.. akibatnya kurang motivasi untuk lebih baik kembali. Namun, lingkaran-lingkaran besar yang dinamis akan mengondisikan kita untuk terus merasa perlu untuk secara konsisten memperbaiki kualitas diri.

Oleh karena itu sahabat, melalui tulisan ini saya ingin mengajak kita semua, yang mungkin tanpa sadar masih puas berada dalam lingkaran yang kecil, mari keluar dan ciptakan lingkaran yang lebih besar! Hadiri majlis-majlis ilmu yang tersedia.. kembangkan orang lain.. bangun networking pembelajar sejati.. yang tidak pernah lupa mengembangkan diri sembari membangun sesama. Ubah mindset berpikir kita.. inilah saatnya untuk lebih proaktif meraih harapan dan kesempatan untuk menjadi jauh lebih besar dan jauh lebih baik! Ambillah peluang untuk terus menerus menantang diri kita untuk lebih baik. Jangan pernah takut kalah! Kita adalah pemenang yang belajar dan bangkit dari kekalahan..

"I believe (indeed) that a greatman must always be a great learner, a great teacher, as well as a great disciple!"

wallahu'alam bishshowab

picture taken from http://fun.portal.bg

Peluang ikut Pelatihan Kepemimpinan Nasional! for FREE!


Pendaftaran Training Leadership and Lifeskill Forum Indonesia Muda Angkatan VII

Training Leadership and Lifeskill Forum Indonesia Muda Angkatan VII

“Menyongsong kepemimpinan pemuda: Think Globally, Act Locally”

Apa itu Forum Indonesia Muda (FIM)?

Sebuah forum independen yang beranggotakan pemuda dan mahasiswa dari berbagai aktivitas, universitas maupun lembaga kepemudaan, dari seluruh Indonesia; dari Aceh sampai Papua dengan cita-cita bersama membangun bangsa dengan semangat kontribusi bersama. Forum ini sebagai sarana peningkatan kompetensi pemuda dan mahasiswa dalam rangka menyiapkan pemimpin masa depan dan wadah silaturahmi untuk membangun kontribusi bersama.

Siapa saja alumni Forum Indonesia Muda ?

Pemuda dan mahasiswa dari seluruh Indonesia dengan latar belakang minat dan aktivitas: pendidikan, kerelawanan, pemberdayaan masyarakat, lingkungan, sosial politik ekonomi, dan lain-lain.

Ingin bergabung bersama Kami???

Persyaratan Calon Peserta :

1. CV lengkap dengan menggunakan format yang terlampir disini
2. Surat rekomendasi resmi dari organisasi (organisasi tidak dibatasi dari latar belakang tertentu; dapat berupa organisasi mahasiswa/LSM/Karang taruna/dll)
3. Sebuah Essay dengan tema “aku untuk bangsaku”, yang mencakup:

a. sebaiknya menceritakan tentang tiga hal:

  • Aktivitasku dimasyarakat (LSM, Kemahasiswaan, kelurahan, tempat ibadah, dll)
  • Visi besar untuk Indonesia dan apa yang sudah dilakukan untuk mengarah kesana
  • Ide konkrit yang bisa dilakukan untuk pengembangan wilayah/daerah sekitar tempat tinggal

b. penulisan sesuai dengan teknis:

  • Format kertas A4, huruf Arial 11pt., 1.5 spasi, batas margin atas& kiri 4 cm dan bawah& kanan 3 cm, dalam aplikasi Microsoft Word 2003.
  • Panjang essay minimal 3 halaman penuh dan maksimal 5 halaman penuh, tidak termasuk gambar atau halaman judul (bila ingin menyertakan)
  • Ketik judul essay di dalam batas margin dengan letak di tengah atas dan jarak antara judul dan teks adalah 3 spasi, huruf judul Arial 14 pt bold.
  • Nama dan instansi diketik di bagian header kanan atas pada setiap halaman essay.

Persyaratan Pendaftaran dikirimkan ke:
email: forumindonesiamuda@yahoo.co.id

Pengiriman dokumen pendaftaran paling lambat: 31 Maret 2009, pukul 18.00 WIB
Pengumuman 100 peserta terpilih: 13 April 2009
Pelatihan FIM 7: 30 April-3 Mei 2009

Contact person: Fitrasani (085220331070)
Ivan Ahda (08818112850)


Info lebih lanjut bisa buka http://forumindonesiamuda.wordpress.com atau klik aja dari "recommended sites di sebelah kanan layar blog ini" : Forum Indonesia Muda


Monday, March 09, 2009

Peluang Seminar International Gratis ke Luar Negeri!

bismillah...

Kawan-kawan, berikut ada info yang cukup menarik untuk diikuti.. terlebih bagi kawan-kawan yang tertarik dengan isu ekonomi atau kebijakan publik yang berkaitan dengan "Resesi Ekonomi Global". Kalo kawan-kawan lulus seleksi, bisa diberangkatkan ke beberapa negara loh! termasuk Amerika dan Vietnam kalo ga salah.. Persyaratannya juga ga terlalu neko-neko. APPLICATION DEADLINE: 1 APRIL 2009. Saya lagi pasang kuda2 juga nih=b kalo Singapura ga lolos, mungkin saya mau coba ikut daftar juga program ini. Mungkin kita bisa berangkat sama-sama kawan2=D Mangga di bawah ini infonya:

The 19th New Generation Seminar

"The Global Economic Crisis: Impacts and Responses in Asia"

October 4-18, 2009

Honolulu, Hawaii; Seoul, Korea; Hanoi, Vietnam

Now accepting applications for the 2009 Program. Deadline: April 1

Each year the East-West Center invites rising young leaders from the United States and Asia Pacific to participate in The New Generation Seminar (NGS), a two-week intensive educational, dialogue and study tour travel program. The program is developed around a thematic focus and provides participants with an opportunity to strengthen their understanding of Asia Pacific-U.S. developments and challenges, build a regional network and to become leaders with a more international perspective. The first week of the program is held in Hawaii. In discussions with East-West Center researchers, other experts in the Hawaii community and one another, participants are introduced to key regional policy issues such as international relations, security, economics, population, health and environment. The second week involves field travel to either the United States or Asia Pacific for exploration of the program theme.

2009 Theme: "The Global Economic Crisis: Impacts and Responses in Asia"

The world is facing what may be the first truly global economic crisis. The financial meltdown that began on Wall Street has become a crisis that reaches deep into the globally integrated financial and trading systems, posing very serious challenges for countries around the world. Asia’s vastly diverse economies have experienced the fallout in different ways, all of which are testing political, economic and social structures across the region.

The 19th New Generation Seminar will provide an opportunity for policy and decision-makers from Asia Pacific and the United States to develop a comprehensive perspective of how the financial crisis is affecting regional economies, how countries are responding nationally, and what countries are doing together. Participants will travel to Korea and Vietnam to compare the challenges and policy responses in two Asian countries representing different stages of economic development and different political systems. In Korea participants will examine how the crisis has affected a newly industrialized economy that has been one of Asia’s success stories since the 1997 Asian financial crisis. Vietnam offers a view of the impact on an emerging economy that has had the second highest growth rate in Asia for several years, but still remains a developing nation. Meetings and visits will expose participants to a wide range of perspectives from government, private sector, labor, academia, civil society and the media to better understand the causes, consequences and future implications of this unprecedented challenge to the global economy.

For full information about the NGS please download the 19th NGS Background Summary

Who Can Apply

The New Generation Seminar involves 12-14 participants aged mid-20’s to late 30’s, approximately 8-10 from Asia Pacific and 4 from the United States. The program seeks to engage “communicators” and “leaders,” those individuals who are in a position to shape and influence policy and decision-making in their countries, regions or local communities. Primarily these leaders will be involved in political processes. Past participants have included members of national, state or provincial government assemblies or ministries, young mayors or governors, city council members, up and coming members of political parties, leaders of political party youth wings, political advisers and other elected officials. The NGS also includes leaders from civil society organizations, media, business and law. The program is geared toward professionals working outside of academia.

The strongest candidates for the program will be:

· Working professionals in their mid-20s to late 30s;

· Political and community leaders or communicators with broad-based policy knowledge and influence;

· Individuals with limited opportunity for international travel;

· Fluent in English.

Candidates need not be specialists in the program theme; indeed, as stated above, we prefer candidates with broad based policy profiles who could benefit from deepening their understanding of the current economic crisis.

How to Apply

Participation in the New Generation Seminar is a competitive process. Nominations are received from a variety of U.S. and Asia Pacific organizations and qualified individuals are welcome to submit applications on their own. The applications and nominations are reviewed by an East-West Center Selection Committee, which makes the final selection of candidates.

To apply, please submit the following:

· The Application Cover Sheet (Click here to download. You may type directly into this Word document).

· A brief written statement about why you wish to participate in the 19th New Generation Seminar (not more than one typewritten double-spaced page, please). In responding please consider what you feel that you can contribute to the program and what you hope to gain from participating given your current leadership positions/roles, especially with regard to this year’s program theme.

· One-paragraph professional biography summarizing your current work and highlighting your leadership experience and those aspects of your resume you think are most important for the selection committee.

· Copy of resume to include professional and educational background.
Resume or CV should clearly indicate years and type of education, title of position held, name of employer, dates spent at each position, and most importantly a brief outline of specific responsibilities or accomplishments in each position.

· Two (2) letters of professional recommendation on official letterhead with current contact information for each person writing a recommendation.

For a printed summary of the application requirements, please download the Application Instructions and Cover Sheet.

APPLICATION DEADLINE: APRIL 1, 2009

You may send applications via:

E-MAIL: ngs@eastwestcenter.org

FAX: (808) 944-7600

POST: New Generation Seminar, East-West Seminars
East-West Center, 1601 East-West Road, Honolulu, Hawaii, 96848-1601, USA

For questions or confirmation of receipt, please contact:

TEL: (808) 944-7682

We will confirm receipt of the application within 5 working days. If you do not hear back from us, please follow up.

Applications must be received at the East-West Center by the application deadline in order to be considered.

You will be notified of the results by June 15, 2009.


info lengkap dapat dilihat di: http://www.iief.or.id (pilihan strata non-gelar)


Saya akan sangat senang sekali kalau ada di antara kawan-kawan yang berhasil lulus ikut program ini sehingga bisa lebih banyak berkontribusi bagi diri, keluarga dan masyarakat ini. Mari tumbuh bersama kawan! Sukses!


Saturday, March 07, 2009

Hari Ini Saya Sedikit Bermimpi... Haha...

Bismillah..

Hari ini.. sabtu, 7 maret 2008 adalah hari yang mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu hari yang cukup penting dalam hidup saya. Bagaimana tidak, mungkin hari ini adalah salah satu titik persimpangan jalan yang menjadi faktor penentu kehidupan saya di masa yang akan datang. Bagaimana saya berkontribusi, bagaimana saya membangun diri. Meskipun memang hari ini bukanlah segalanya, namun tidak ada salahnya untuk menghargai setiap jenak waktu yang terlewati hari ini.

Ini adalah pengalaman pertama saya mendapatkan "panggilan resmi" dari sebuah institusi formal untuk hadir dan menjalani interview. Pengalaman pertama ini menjadi semakin menarik karena interviewer saya (orang yang mewawancarai saya) bukanlah sembarang orang. Beliau adalah seorang associate professor lulusan Princeton University, yang saat ini diamanahkan menjadi vice dean of academic affair di Lee Kuan Yew School of Public Policy Singapore. Akademisi berusia 38 tahun yang bernama lengkap Scott Fritzen, PhD ini adalah seorang expert dalam bidang pengembangan kebijakan pengentasan kemiskinan, kebijakan antikorupsi dan analisa organisasi di negara-negara berkembang di asia, termasuk Indonesia. It must be a great moment to learn!

Nuansanya menjadi semakin dramatis karena bisa dikatakan saya kurang tidur tadi malam. Tiba di jakarta sekitar pukul 1/2 12 malam, dan baru tidur sekitar pukul 1 pagi. Alhasil, ketika bangun untuk mengambil air wudhu untuk shalat shubuh, tampak cekungan di mata saya yang merah. Butuh upaya yang sedikit lebih dari biasanya untuk membuat mata saya terjaga.

Singkat cerita, berangkatlah saya dari rumah jam 6.30 pagi. Ditemani oleh ayah saya, lengkap dengan pakaian berdasi kami pun memulai perjalan menuju Hotel Sari Pan Pacific di bilangan Jl. Thamrin, jakarta pusat dengan menggunakan angkutan umum. Saya mendapatkan jadwal interview pukul 10 pagi, yang kemudian dilanjutkan dengan tes matematika & tes reading+writing pada pukul 12 siang. Saya mengajak ayah saya untuk ikut serta sebagai penunjuk jalan menuju ke tempat tujuan. Maklum, saya tidak begitu hafal jalan-jalan di jakarta. Meskipun memang bundaran HI-Thamrin-Istana adalah salah satu "rute wajib" para aktivis penggemar aksi yang cinta damai. haha...

Setelah sampai di Lenteng Agung, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Kereta Api Ekonomi AC menuju Gondangdia. Satu hal yang bisa saya katakan sebagai keuntungan bila berjalan bersama dengan ayah saya adalah karena semangat silaturahimnya yang begitu luar biasa. Mulai dari supir angkot, tukang ojek sampai penjaga toilet dan mushola di stasiun lenteng agung menyapa beliau. Bahkan yang terakhir sampai rela meminjamkan mejanya sebagai tempat bagi saya untuk meluangkan waktu sejenak membaca beberapa bahan yang belum sempat saya baca di sela jenak waktu menanti kedatangan kereta kami. Entah apa yang beliau lakukan sehingga sedemikian banyak orang yang tak sungkan menyapa kami. Jujur saya mengaku tidak ada apa-apanya dalam hal ini dibandingkan beliau.

Akhirnya kereta api pun tiba, dan kami pun bergegas masuk. Semilir AC di dalam kabin kereta ekonomi pagi itu cukup melegakan. Terutama mengingat tidak terlalu banyak orang yang memanfaatkan sarana transportasi publik tsb ketika itu. Mungkin sebagian di antaranya pergi ke luar kota atau sejenak menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta di rumah atau di tempat-tempat rekreasi. Akhirnya sampailah kami di stasiun Gondangdia. Dari sana kami memutuskan untuk naik ojek menuju tempat tujuan. Masih saja ada tukang ojek yang menyapa ayah saya beberapa saat setelah ojek kami mulai meninggalkan stasiun=b

Saya tiba di tempat pukul 8 pagi, dua jam lebih awal dari jadwal yang semestinya. Tapi saya pikir ini lebih baik, dibandingkan harus terburu-buru menjelang waktu yang ditentukan. Ketika saya datang, sudah ada tiga orang yang hadir lebih awal. Plus, sang profesor yang profile,foto & backgroundnya memang sudah saya telusuri sebelumnya. Dan alhamdulillah.. beliau menyapa saya dengan sangat ramah!

Saya duduk dan berkenalan dengan beberapa orang yang lebih dulu hadir di sana. Applicant Master of Public Policy memang didominasi oleh anak-anak muda.. rata-rata angkatan 2002-2005.. (meskipun ada satu orang yang berasal dari angkatan 96). Selain saya (Unpad), dan adik kelas saya di smu IC yang secara tidak sengaja kembali bertemu di momen tsb (Berasal dari Sekolah Teknologi Petronas di Malaysia, saya lupa nama inggrisnya=b), seluruh aplikan berasal dari UI! FH, FISIP, ANTROPOLOGI, dsb. Yang lebih menarik adalah background yang mereka miliki. Ada yang sedang bekerja di lawfirm, ada yang bekerja sebagai praktisi di WHO, seorang peneliti sosial, ada yang sudah bekerja di perusahaan multinasional, bahkan ada seorang penyiar TV One yang biasa tampil di layar kaca berita malam. Sementara saya siapa ya?=b jawaban pamungkas saya kalo ditanya mengenai kesibukan saya: "freelancer". udah. haha... "Luar biasa anak-anak muda ini", pikir saya.

Semua orang menanti giliran untuk dipanggil ke dalam sebuah private room untuk melakukan interview empat mata dengan Mr. Fritzen selama lebih kurang 20 menit. Waktu untuk menunggu, saya habiskan untuk berbincang-bincang dengan peserta yang lain. Terutama mengenai aktivitas mereka sehari-hari. Salah satu yang paling menarik adalah apa yang diceritakan oleh sang penyiar TV One yang kebetulan duduk di sebelah saya. Ia mengaku sudah beberapa hari ini kurang tidur. Ia mengatakan bahwa resiko menjadi seorang reporter adalah harus siap untuk dihubungi kapan pun 24/7. Tapi ia mengaku, bahwa keuntungan yang ia rasakan adalah "networking". Misalnya dalam hal meminta surat rekomendasi untuk keperluan S2. Cukup mendatangi salah seorang tokoh dan bilang, "Bang, bantuin dong.. buatin surat rekomendasi". Ungkapnya sambil tertawa kecil.

Lebih lanjut ia menceritakan sedikit cerita "behind the scene" yang berkaitan dengan siaran langsung berita malam yang ia lakukan setiap senin malam sampai jumat malam, kecuali rabu malam. Ia menceritakan bahwa penampilannya harus benar-benar perfect. "Kalau seandainya pemirsa di rumah tahu apa yang ada di bawah jangkauan kamera..", lanjutnya. "Di bawah itu banyak kabel yang berseliweran di bawah dan sewaktu-waktu bisa membuat kita tersandung.. Di bawah kursi kita itu ada bantal.. supaya kita terlihat lebih proporsional di depan kamera! haha..". Saya sempat menanyakan mengenai "owner intervention" terhadap berita yang disampaikan. Dia bercerita bahwa para kru biasanya mewarning bila ada berita yang berkaitan dengan owner.. "awas hati-hati jangan sampai salah ucap! berita dewa.. berita dewa!", guyon mereka. Kalau berita tokoh yang lain mungkin masih bisa ditoleransi kalau ada sedikit kesalahan. Tapi kalau berita yang menyangkut owner, ga boleh ada kesalahan sedikit pun. Kalau ada kesalahan biasanya owner langsung negur pimpinan siaran melalui telpon. "Menarik juga ya dinamika para jurnalis ini.. haha",pikir saya ketika itu.

Akhirnya giliran saya pun tiba. Sebelumnya saya diberikan sebuah lembar study-case yang berisi sebuah persoalan yang harus dipecahkan. Pendapat yang saya kemukakan di dalam interview akan menjadi salah satu bagian dari penilaian.

Pintu pun terbuka dan beliau mempersilahkan saya untuk masuk. Beruntung karena saya berada di urutan tengah, sehingga saya bisa lebih mengatasi kondisi. Terutama karena saya sudah berada di dalam posisi "nothing to lose" terhadap aplikasi ini, saya benar-benar tidak merasa gugup untuk mengikuti proses wawancara. Alhamdulillah, situasi pun semakin kondusif karena sang profesor bukan seorang yang kaku.. beliau adalah seorang yang sangat bersahabat. Bahkan ia menyediakan segelas air putih untuk saya. Nice=D

Saya membuka percakapan dengan mengatakan, "it's an honor to meet you sir.. I've read few of your publication!". Beliau tampak excited dan menanyakan publikasinya yang mana yang sudah saya baca. Saya bilang, "I read your publication about "Transforming Asian Governance" and about "Government's Political Will toward Anti-Corruption Movement in Vietnam". Dia menanyakan bagian mana yang menarik bagi saya; apakah ada hal yang saya setujui atau tidak setujui. Saya melanjutkan, "I am interested with your statement about 'the orthodox paradox' in vietnam's anti-corruption movement.. the government is police themselves. I think, we have the same situation comparing with Indonesia situation." ('orthodox paradox' adalah ungkapan yang beliau berikan terhadap pemerintah Vietnam yang setengah hati dalam melakukan gerakan pemberantasan korupsi dengan membuat 'KPK ' atau pengawas pemerintah berada di bawah kekuasaan mereka; tidak independen). Beliau menyatakan senang karena saya sudah meluangkan waktu untuk membaca publikasinya karena jarang orang yang mau menyempatkan waktu untuk membaca publikasi yang ia miliki. Dia juga mengatakan, "this is the best first impression I ever had today!", sambil tersenyum. (Untuk hal ini, saya harus berterima kasih kepada Rizal, Panji dan Windu atas kesediaan mereka untuk melakukan roleplay interview dan memberikan banyak feedback bagi saya=D).

Perbincangan pun terus mengalir. Mulai dari alasan saya memilih S1 di psikologi, apa rencana karir saya ke depan, kontribusi nyata yang telah saya lakukan, aktivitas saya setelah lulus dari fapsi, motivasi yang saya miliki, backup plan kalau seandainya tidak lulus NUS, dsb. Alhamdulillah, dari pandangan saya secara pribadi wawancara berjalan dengan lancar. Bahkan lebih lancar dari roleplay! Alhamdulillah.. mungkin ini karena berkat doa dari kawan-kawan semua. Nuhun ya=D Special thanks untuk Windu atas saran sederhananya untuk lebih mengalir dalam interview: "Dengan menghilangkan kesan bahwa kita sedang dinilai!". Trust me, it works!=D

Sembari menunggu jadwal tes tertulis, saya menyempatkan diri untuk pergi ke masjid sesaat. Shalat mutlak sebentar untuk menenangkan hati. Untuk tes selanjutnya, jujur persiapan saya tidak terlalu memadai. Khususnya dalam hal matematika dan writing. Saya berdoa mudah-mudahan Allah lancarkan.

Saya masuk ke dalam ruangan tes pukul 12.10. Saya memiliki waktu untuk menyelesaikan set soal pertama (reading & writing+essay) selama 1 jam 20 menit. Diberikan sebuah artikel mengenai "peristiwa bom di Mumbai, India dan dampaknya terhadap situasi sosial, politik & ekonomi di India". Artikelnya cukup panjang; menghabiskan sekitar 4 halaman. Cool ya?=D Pertanyaannya juga lumayan banyak.. ada 14 pertanyaan yang harus dijawab! Terakhir ditutup dengan Essay bebas tentang strategi pengentasan kemiskinan yang efektif di India.

Alhamdulillah sebagian besar pertanyaan (insya Allah) bisa saya jawab dengan baik, meskipun ada beberapa pertanyaan yang masih saya terka jawabannya. Tapi sayangnya, karena mungkin saya kurang baik dalam memanfaatkan waktu yang tersedia, saya baru bisa memulai menulis essay di detik-detik akhir dari sesi tersebut! Alhasil, saya baru menuliskan dua paragraf dan waktunya sudah habis. Padahal diminta sekitar 500 kata=b It's been a really hard situation to consider. But, I did my best, insya Allah!

Setelah tes set pertama tersebut selesai, dilanjutkan dengan tes matematika dasar. Soalnya hanya 5, disediakan waktu selama 20 menit. Tidak boleh menggunakan kalkulator. Awalnya saya agak lupa-lupa ingat untuk menyelesaikan persoalan yang diberikan. Bahkan ada pertanyaan yang keliru saya pahami pada awalnya. Tapi, syukur alhamdulillah Allah masih memberikan saya kesempatan untuk menyadari dan memperbaikinya kembali. Soal yang diberikan mengenai pertidaksamaan, mengenai mean (rata-rata), dan sedikit logika. Alhamdulillah, setelah diperiksa oleh sang profesor, jawaban saya alhamdulillah mendapatkan skor maksimal 5 (betul semua). "Well done!", kata beliau. Alhamdulillah, otak saya masih bisa dipake buat ngitung=b

That's all for today guys.. Hari ini merupakan bagian dari upaya saya untuk mengejar mimpi.. LKY NUS merupakan sebuah institusi yang dikenal baik di dunia internasional. Bahkan terakhir secara peringkat, NUS setara dengan Tokyo University.

Ya.. tidak ada salahnya bukan?Hari ini saya sedikit bermimpi..
May Allah give the very best. Amin. Mohon doanya kembali kawan=D

Berikut saya share beberapa foto yang menggambarkan suasana kampus LKY NUS yang saya dapatkan (picture taken from pheakdey2u.files.wordpress.com). Benar-benar layak untuk diperjuangkan! Beda dikit sama kampus fapsi unpad!=b :



Sunday, March 01, 2009

Kayuhan Penuh Kegigihan...

Bismillah...

Belum selesai saya merenung mengenai kerendahan hati dan semangat berbagi, saya mendapatkan kabar lainnya yang benar-benar membuat saya malu.. benar-benar malu..

Kisah nyata tentang seorang bapak dengan lima orang anak di sebuah desa di kabupaten sumedang. Kegigihannya, ketulusannya.. membuat saya merasa harus lebih banyak mengintrospeksi diri. Bagaimana tidak.. saya seringkali mengeluh setiap kali diminta berbagi di jatinangor atau tempat-tempat lain yang menurut saya: "agak" jauh. Memang, dada saya akhir-akhir ini agak sedikit sakit karena sering menerjang dinginnya malam dan basah hujan dengan motor bandung-jatinangor pp.. tapi sebenarnya bukan itu yang seringkali membuat saya begitu berat untuk berangkat. Lebih karena faktor psikologis lainnya (intelektualisasi nih..) : "rasa malas".

Tapi, jauh berbeda apa yang dilakukan oleh bapak lima orang anak yang sangat istimewa ini. Beliau menjadi istimewa bukan karena harta yang melimpah.. tapi karena kegigihan beliau yang begitu luar biasa. Another great story to be learned..

Di hari itu, beliau memutuskan untuk kembali berjuang mencari sumber penghidupan untuk istri dan kelima buah hatinya. Pagi itu, beliau memutuskan untuk mencari pekerjaan di daerah cibiru. Tanpa mengeluh, ia kayuh sepeda yang ia miliki.. Namun bukan dengan alasan yang sama dengan buruh-buruh berdasi di jakarta yang mengikuti trend "bike to work".. atau para aktivis "hijau" yang mengampanyekan sepeda sebagai alat transportasi bebas polusi.. Hal ini beliau lakukan karena beliau benar-benar tidak memiliki uang untuk sekedar naik angkot. sehingga beliau memutuskan untuk memanfaatkan apa yang beliau punya dan memulai sebuah perjalanan panjang hari itu.. menempuh panasnya aspal di sepanjang jalan raya sumedang-cibiru..

Singkat cerita.. Akhirnya, sampailah beliau di cibiru.. Di sana beliau mencoba untuk mendatangi beberapa tempat, sembari berharap ada lowongan pekerjaan yang bisa ia dapatkan. Tapi, ternyata Allah masih belum berkehendak untuk memberikan beliau pekerjaan. Allah masih ingin menguji kesungguhan hamba-Nya yang sangat ia cintai ini..

Alhasil, beliau memutuskan untuk kembali menempuh sepeda kembali ke rumah.. menempuh jalan yang sama seperti ketika berangkat pagi harinya.. rute cibiru-jatinangor-sumedang.. (Sebagai catatan untuk kawan-kawan yang belum tau jarak cibiru sumedang.. Dengan motor berkecepatan rata-rata 60km/jam cibiru-jatinangor bisa ditempuh dalam waktu 20 menit "kalo ga macet", Jatinangor-Sumedang dicapai lebih kurang sekitar 1-1,5 jam).

Setelah lelah mengayuh, meter demi meter.. kilometer demi kilometer.. akhirnya sampailah ia di kota sumedang. Tempat di mana istri dan anak-anaknya bermukim. Baru sampai di rumah, istrinya mengabari bahwa di jatinangor sedang ada acara yang cukup penting.. dan mengatakan bahwa sang suami mendapatkan undangan untuk dapat turut hadir di sana. Istri mana yang tega melihat suaminya yang kelelahan mengayuh sepeda sepanjang hari.. Namun, ia paham betul karakter suaminya tercinta. Meskipun penuh kesederhanaan, namun ia adalah sosok yang tawadhu (rendah hati), penuh kegigihan... Setelah beristirahat sejenak, akhirnya sang Bapak memutuskan untuk memenuhi undangan tersebut, dan mulai mengayuh kembali dari sumedang menuju jatinangor. Luar biasa!

Dapatkah kawan-kawan membayangkan bila kita berada dalam posisi beliau? Kisah ini membuat saya berpikir dua tiga kali untuk urung berangkat ketika rasa malas itu kembali datang menggoda.. Dalam satu hari, bapak lima orang anak ini mampu mengayuh dari sumedang menuju cibiru pp.. dan tanpa mengeluh, memutuskan untuk memenuhi undangan yang ia terima dan kembali mengayuh dari sumedang menuju jatinangor!

Terakhir saya mendengar beliau masih belum mendapatkan pekerjaan.. Saya berdoa semoga Allah segera memberikan beliau pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluarganya. amin.

terima kasih ya Allah.. atas kesempatan yang engkau berikan, sehingga aku dapat bertemu hamba-hambaMu yang begitu luar biasa! Semoga suatu hari, aku bisa memiliki ketulusan.. kegigihan.. sama seperti mereka, hamba-hambamu yang tawadhu & senantiasa bersyukur kepadamu. amin

picture taken from http://ikhsanumuslim.files.wordpress.com



How many days I have lived?

Quote of The Day :

"Mantapkanlah diri untuk mengakui kealfaan diri saat kritikan tajam datang menyapa.. terasa berat,namun sesungguhnya meringankan!"

Label Cloud


 

Design by Blogger Buster | Distributed by Blogging Tips