Thursday, November 24, 2011

Pemuda Muslim Masa Kini

"Seorang yang mampu menemukan makna hidupnya adalah seorang yang mampu untuk mengambil jarak dari dirinya sendiri" - terinspirasi dari Viktor Frankl

Membaca berita bertajuk "LSI: Minat Salat & Baca Al Quran Kaum Muda Muslim Rendah " (http://us.detiknews.com/read/2011/06/14/152950/1660063/10/lsi-minat-salat-baca-al-quran-kaum-muda-muslim-rendah), membuat saya teringat pada perjumpaan pertama saya dengan salah seorang tetangga asal Afghanistan sekira 9 bulan yang lalu. Ketika itu kami saling bertegur sapa, bertukar nama dan ia pun mengucapkan selamat datang sembari tak lupa dengan senyum lebar ia menyampaikan "I am a muslim!". Tak lupa saya membalas senyum dan mohon pamit utk berbenah di hari pertama saya tiba di kota Erfurt tercinta ini.

Selang beberapa waktu kemudian waktu shalat zuhur pun tiba. Sebagai pendatang baru yang tak tau menau kemana arah kiblat, saya pun memutuskan untuk mengetuk pintu tetangga baru saya dan bertanya padanya. Saya bertanya kepadanya, "are u praying?". Beliau pun dgn ramah merespon, "ya, sometimes =D". Saya pun lanjut bertanya, "where's the qiblah direction?". Ia pun hanya tertawa kecil sembari mengangkat kedua pundaknya, speechless..

Belakangan saya ketahui bahwa sepanjang tinggal selama beberapa bulan di ibukota negara bagian Thüringia ini, ia belum pernah sekalipun pergi ke masjid atau bahkan belum ada motivasi untuk mencari tahu di mana lokasi masjid terdekat berada. Sekali dua kali alhamdulillah berhasil ia saya bujuk ikut ke masjid untuk bersama-sama melaksanakan shalat jumat. Namun, pada kesempatan lain, atas nama 'produktivitas', ia tak mau berkompromi dengan agenda diskusi kelompok yang berbentrokan dgn jadwal shalat jumat. Meskipun sebenarnya adalah hal yang mudah baginya untuk mengondisikannya dan sedikit menyesuaikan waktu pertemuan dgn kawan-kawan lainnya. Setelah itu cukup lama ia tak pergi bersama untuk menunaikan shalat jumat.

Sampai suatu ketika ia tiba-tiba datang ke saya dengan bersemangat dan bertanya, "Reza, kemana arah kiblat?". Saya yang masih tertegun, spontan menjawab: "Terbentur apa kepalamu barusan?". Ia pun meneruskan, "saya kini tengah berada di dalam pencarian.. saya ingin lebih dekat dengan Tuhan! kehidupan dunia seharusnya tak membuat kita lupa akan akhirat, reza!". Mendadak kini ia mengajari saya. Saya pun tersenyum=D Semalam saat saya mencuci priring seusai makan malam, tampak ragu ia bertanya kepada saya: "Reza, pernahkah kamu meminum bir?". Sepertinya saya paham kemana arah pembicaraannya karena beberapa saat sebelumnya sempat saya lihat sebotol bir tergeletak di dalam lemari pendingin. Sambil tersenyum, saya katakan padanya, "sebagai seorang muslim, kita perlu memegang prinsip=D". Mendengar perkataan saya, sekilas ia menatap botol bir yang kini telah berada di dalam genggamannya, tampak keraguan untuk melanjutkan niatnya atau menghentikannya saat itu juga. "Ya.. terkadang ada kalanya kita 'lupa'..", sembari menuang segelas bir dan menegaknya hingga habis.

Begitulah gambaran kita: "Lupa-Lupa Ingat"=D seringkali lupa, jarang ingat. Salah seorang guru saya pernah bertutur menyitir petuah baginda Rasulullah SAW, "iman itu yazid wa yanqus.. iman itu naik dan turun". Kalau kita mencoba jujur pada diri kita sendiri, "iman kita ini lebih sering naik, atau lebih sering turun?"=D

Saya pribadi berkaca, bahwa saya pun masih jauh dalam gambaran muslim yang baik. Dari indikator yang sederhana saja: shalat dan quran. Terkadang bila ada rangkaian block-seminar yang biasanya berada pada hari jumat-sabtu dan berlangsung selama dua hari penuh dari pagi hingga petang, saya meminta rukhsah (baca: keringanan) kepada Tuhan utk mengganti ibadah shalat jumat dgn shalat zuhur. Itu pun saya lakukan dengan 'mencuri-curi' waktu jeda makan siang, menggoes sepeda secepat-cepatnya agar dapat menggelar sajadah dengan nyaman di kamar dan berdialog dengan-Nya. (Lihatlah bagaimana saya membuat justifikasi dengan memberikan penekanan pada frase " ..'mencuri-curi' waktu jeda.." agar terkesan 'saya telah berupaya duhai Tuhan, duhai kawan-kawan..'=b). Interaksi dengan quran pun demikian.. Baru menyentuh lembar kedua, mata saya mendadak terasa begitu berat, mengantuk. Kapankah kita bisa berinteraksi dengan quran seperti interaksi kita dengan Facebook?=D

Kalaulah bukan karena kemurahan Allah untuk menutupi aib saya dengan husnuzhan (prasangka baik) yang ditampilkan oleh kawan-kawan yang lain, tentulah saya tiada dapat memperoleh kesempatan untuk menjadi lebih baik. Momentum-momentum perbaikan diri itu seringkali hadir lewat berbagai peristiwa, namun terkadang kita kurang peka untuk bergegas menyambutnya. Seperti kejadian berikut ini: mendadak salah seorang kawan yang belum pernah saya kenal sebelumnya mengontak bahwa ada seorang kawan yang tertarik untuk mengenal lebih banyak tentang Islam. Ia begitu bersemangat untuk mencari tahu lebih banyak tentang kebenaran Islam. Sementara saya lebih sering terhenti pada pertanyaan (apakah Islam ini agama yg benar?; apa betul Quran itu kitab Tuhan?,dsb), bukan pada pencarian jawaban. Ah, ini mungkin cara Tuhan menegur hambaNya yang sudah begitu lama terlupa, seakan berucap "Mari.. kenali Aku lebih dekat!".

Peristiwa unik lainnya pun saya alami ketika saya begitu berat melangkah guna menghadiri sebuah acara keislaman di daerah selatan yang digagas oleh organisasi masyarakat muslim Indonesia di Jerman (FORKOM http://www.forkom-jerman.org/), terutama karena jarak yang jauh terbentang (sekira 7,5 jam perjalanan kereta). Tiada angin tiada hujan, seorang kawan di tanah air mendadak menghubungi dan meminta saya untuk menengok kabar seorang kerabatnya di kota yang persis sama dgn kota pelaksanaan acara tsb. Wajah seorang adik kelas yang sudah begitu lama tak berjumpa di kota tsb pun terlintas, menanti utk disilaturahimi. Rangkaian peristiwa ini, seolah-olah mencoba berkata, "Sudah bismillah.. kamu harus berangkat!",maka saya pun bulat untuk berangkat. Sepulang dari sana saya membawa serangkaian titipan salam untuk disampaikan.. begitu indah=D

Pernahkah kawan-kawan sekalian mengalami kejadian serupa?=D terkadang saya menduga, boleh jadi momentum-momentum semacam ini hadir atas doa orang tua-orang tua kita, guru-guru kita, sahabat-sahabat kita agar kita tetap senantiasa terjaga.

Viktor Frankl, seorang psikolog yang justru menemukan makna hidupnya di dalam kamp konsentrasi Nazi, menuturkan dalam karyanya Man's Search for Meaning (yang diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dari judul aslinya Ein Psychologe erlebt das Konzentrationslager; seorang psikolog yang mengalami kamp konsentrasi) bahwa eksistensi manusia ditandai oleh setidaknya tiga hal: Spritualitas, Kebebasan, dan Tanggung Jawab.

Hal yang pertama, "spiritualitas" adalah sesuatu yang abstrak, tiada dapat terlukis oleh materi. Namun dapat dipengaruhi oleh 'dunia material'. Selanjutnya "kebebasan" merupakan sebuah keadaan dimana manusia memiliki kecenderungan untuk tidak mau didikte; terlebih kita sebagai 'anak muda' yang katanya berada pada 'masa-masa pemberontakan'=D haha.. Hal terakhir inilah yang harus selalu kita ingat, bahwa setiap pilihan yang kita buat mestilah mengandung 'tanggung jawab'. Sehingga ada baiknya, sebelum mengambil sebuah keputusan kita pertimbangkan apa konsekuensi selanjutnya bagi kita, orang-orang terdekat kita, dan lingkungan. Tidak perlu risau dengan ucapan sebagian orang yang berpendapat, "menjadi bijak itu adalah haknya orang-orang tua". Dikotomi 'tua' dan 'muda' tentu perlu kita letakkan dalam koridor yang tepat, dalam konteks yang sesuai. Bukan begitu kawan?=D

Jadi, sekarang kalau ada yang bertanya kepada kita "gimana caranya supaya eksis sebagai pemuda (muslim)?", maka jawablah: "dengan lebih dekat kepada Tuhan, bebas, namun tetap bertanggung jawab". Bagaimana?=D haha..

mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan. Please enjoy ur life!=D

salam pemudi-pemuda!

#dari saya yang tiba-tiba dpt inspirasi nulis note pas lagi 'stuck' bikin outline presentasi minggu depan!=b

pic taken from: http://www.inpursuitofmeaning.com/wp-content/uploads/2010/01/stairway-to-heaven.jpg

0 opini dari pembaca:

How many days I have lived?

Quote of The Day :

"Mantapkanlah diri untuk mengakui kealfaan diri saat kritikan tajam datang menyapa.. terasa berat,namun sesungguhnya meringankan!"

Label Cloud


 

Design by Blogger Buster | Distributed by Blogging Tips